Fikih Qunut Witir

Catatan: Pembahasan dalam halaman ini seringnya hanya menyebutkan satu pendapat para ulama, agar pembahasan tidak terlalu melebar pada khilafiyyah fikih yang luas, bisa jadi akan berbeda dengan fatwa atau pendapat ulama lain yang pembaca pegang atau tau, mengingat luasnya ruang lingkup ijtihad dalam masalah ini. Referensi yang bergaris biru dapat diklik untuk merujuk langsung pada sumber kitab dalam versi Maktabah Syamilah atau pdf archive. 

Definisi Qunut

Secara bahasa, Istilah qunut dalam bahasa Arab memiliki ragam makna, di antaranya:

  • Ketaatan.
  • Shalat.
  • Doa: Imam Az-Zajjaj1 mengatakan: “Dalam penggunaan bahasa Arab, qunut identik dengan doa, sementara pelakunya disebut sebagai al-qanit“. (Sumber: Ma’ani al-Qur’an karya Imam az-Zajjaj, jilid 1, hal. 198 dan 320).

Secara istilah ilmu syariat, al-‘Allamah Ibnu ‘Allan2 menjelaskan, “Sebutan khusus bagi doa yang dipanjatkan di dalam shalat, tepatnya pada posisi berdiri yang telah ditentukan (sebelum atau setelah ruku’)“. (Sumber: al-‘Allamah Ibnu ‘Allan, Al-Futuhat ar-Rabbaniyah ‘ala al-Adzkar an-Nawawiyah, jilid 2, hal. 286).

Hukum Qunut dalam Shalat Witir

Pelaksanaan qunut dalam shalat witir merupakan amalan yang disunnahkan bagi imam atau orang yang shalat sendiri, yang dilakukan didalam atau diluar bulan Ramadhan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama diantaranya, mazhab Hanafi3, Syafiiyah (fi wajh4), Hanabilah5, Imam Ahmad (fi riwayat6), Imam Ishaq bin Rahuyah dan ini juga pendapat dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahuanhu, tabi’in Ibrahim an-Nakha’i, Sufyan ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahumullah. Landasan hukumnya berpijak pada beberapa riwayat hadis, baik yang berupa tindakan Rasulullah ﷺ secara langsung maupun arahan lisan beliau.

Pertama, penuturan dari sahabat Ubay bin Ka’ab radhiyallahuanhu. Ia menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ melakukan qunut sebelum ruku saat menjalankan shalat witir (HR. Abu Dawud no. 1427, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Sahih Sunan Abi Dawud).

Kedua, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa qunut kepada cucunya, Hasan bin Ali radhiyallahuanhuma. Dalam riwayat tersebut, Al-Hasan menyebutkan bahwa beliau diajarkan rangkaian doa sebagai berikut:

اللهُم اهْدِني فيمَنْ هَدَيتَ، وعافِني فيمَنْ عافَيْتَ، وتَوَلني فيمَنْ تَوَلَيتَ، وبارِكْ لي فيما أعطيتَ، وقني شَرَّ ما قَضَيْتَ، إئك تقضي ولا يُقضَى عَليك، وإنه لا يَذلُ مَنْ وَالَيتَ، تبارَكْت رَبَّنا وتَعَالَيتَ

(HR. Abu Dawud no. 1425. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud). Ketentuan ini berlaku secara umum pada bulan Ramadhan atau bulan-bulan lainnya, karna hadist-hadist yang berbicara tentang qunut witir bersifat mutlak tanpa dibatasi oleh syarat, waktu atau keadaan tertentu7.

  1. Az-Zajjaj (w. 310 H): Seorang Imampakar nahwu pada zamannya, Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin as-Sariy az-Zajjaj al-Baghdadi. Beliau merupakan penulis kitab Ma’anil Qur’an dan memiliki banyak karya tulis lainnya rahimahullah. (Sumber: Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 14, hal. 360). ↩︎
  2. Ibnu ‘Allan (w. 1057 H): Beliau adalah Muhammad Ali bin Muhammad ‘Allan bin Ibrahim bin Muhammad ‘Allan, al-Bakri, as-Siddiqi, asy-Syafi’i. Seorang pakar tafsirahli hadis, dan ahli fikih. Jika beliau ditanya tentang suatu permasalahan, beliau akan dengan cepat menyusun sebuah risalah (buku kecil) untuk menjawabnya rahimahullah (Sumber: al-Muhibbi, Khulasat al-Atsar fi A’yan al-Qarn al-Hadi ‘Asyar, jilid, 4, hal. 184-188; az-Zirikli, al-A’lam, jilid 6, hal. 293).  ↩︎
  3. Sumber: Ibnu Qudamah, al-Mughni, jilid 2, hal. 111. ↩︎
  4. Wajh, Wajhan, Wujuh, atau Awjuh merupakan istilah dalam Mazhab Syafi’iyyah merujuk pada pendapat hukum internal Mazhab hasil dari istinbath para Ashab Wujuh. Yang disebutkan disini merupakan pendapat ketiga dalam internal Mazhab, dan menurut Imam Nawawi, inilah pendapat yang kuat dari dua pendapat lainnya berdasarkan dalil yang ada. Ashab Wujuh adalah ahli fikih mazhab Syafi’i yang telah mencapai derajat keilmuan yang sangat tinggi, hingga mereka memiliki ijtihad-ijtihad fikih khusus yang mereka simpulkan berdasarkan kaidah-kaidah ushul Imam Syafi’i tanpa keluar dari darinya. Era mereka dimulai dari abad ke-2 sampai ke-5 H, dan jumlah ulama yang masuk dalam jajaran Ashab Wujuh terbatas dan tidak banyak dibanding keseluruhan dari ahli fikih mazhab Syafi’i yang hidup dalam rentang waktu tersebut (Sumber: Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab, jilid 4, hal. 15; Prof. Dr. Kamal Yasin, Musthalah Mazhab Syafi’i, hal. 46; Imam Ibnu Hajar al-Haytami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubrajiliid 4, hal. 296; Syaikh Fahd bin Abdillah al-Hubaisy, al-Madkhal Ila Mazhab Imam Syafi’i, hal. 36-54; Muqaddimah Pentahqiq Nihayat Matalib karya Imam al-Juwaini oleh Prof. Dr. Abdulazim, hal. 123-129 dan 151).  ↩︎
  5. Sumber: Ibnu Qudamah, al-Mughni, jilid 2, hal. 111. ↩︎
  6. Riwayat disini maksudnya adalah pendapat yang dinukil dari Imam Ahmad oleh para murid beliau. Biasanya Imam Ahmad memiliki beberapa pendapat dalam satu masalah hukum. Dalam masalah ini, Imam Ahmad memiliki dua riwayat; yang pertama, qunut witir hanya dilakukan pada separuh akhir bulan Ramadhan, dan yang kedua yang disebutkan disini. Menurut al-Qadhi Abu Ya’la, riwayat kedua ini merupakan pendapat akhir Imam Ahmad setelah beliau mencabut (ruju’) dari pendapat pertamanya (Lihat: Imam al-Mardawi, al-Inshaf fi Ma’rifat ar-Rajih wal Khilaf, jilid 4, hal. 124; Dr. Khalid, at-Tamadzhub, jilid 1, hal. 476). ↩︎
  7. Lihat: Syaikh Albani, Ashlu Sifat Shalat Nabi, jilid 3, hal. 969-970, catatan kaki no. 1. ↩︎
  8. Sumber: Dr. Muhammad bin Umar Bazmul, al-Ahadist wal Atsar al-Waridah fi Qunut al-WItr Riwayah wa Dirayah, hal. 9 dan 69; Hakimi, al-’Atiq Mushannaf Jami’ Li Fatawa Asshab Nabi, jilid 6, hal. 45-46 ↩︎
  9. al-Hafizh Ibnu Mundzir, al-Ausath fi Sunan wal Ijma wal Ikhtilaf, jilid 5, hal. 207; al-Hafizh Abdurrazak as-Shan’ani, Mushannaf, no. 4995 ↩︎
  10. Lihat: al-Hafizh Ibnu Mulaqqin, al-Badru al-Munir, jilid 3, hal. 630. ↩︎
  11. Lektor Kepala Departemen Al-Kitab wa al-Sunnah, Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Umm Al-Qura, Makkah. ↩︎
  12. Atsar Ali bin Abi Thalib dan al-Barra’ disebutkan dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (no. 7216, 7218) dengan sanad yang shahih dan hasan (Sumber: Dr. Muhammad bin Umar Bazmul, al-Ahadist wal Atsar al-Waridah fi Qunut Witir, catatan kaki hlm. 11 dan 22). ↩︎
  13. Atsar Umar dan Ibnu Abbas di sebutkan dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no.7223 dan 7225. Atsar ini disahihkan oleh pentahqiqnya, Syaikh Dr. Saad bin Nashir ash-Syathri (Lektor Kepala Fakultas Syariah Universitas Muhammad bin Saud periode 1422 H dan Anggota Dewan Ulama Senior 1426–1431 H). (Lihat juga: Syaikh Albani, Ashlu Sifat Salat Nabi, catatan kaki jilid 3, hlm 958-959). ↩︎
  14. Bagian yang menonjol pada dada laki-laki maupun perempuan, yang mana kalo di perempuan
    merupakan tempat berkumpulnya air susu, sebagaimana fungsi puting/ambing pada hewan
    berkuku zhilf seperti domba, sapi, dan semisalnya, maupun hewan berkuku khuf seperti, onta (Mu’jam al-Wasith, jilid 1, hal. 94). ↩︎
  15.  sirr, batas minimalnya adalah sekadar menggerakkan lisan tanpa suara, sedangkan batas maksimalnya adalah suara yang hanya terdengar oleh diri sendiri (Sumber: Imam Abul Hasan Ali, Kifayat Thalib ar-Rabbani, jilid 1, hal 549). ↩︎
  16. Kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haqq merupakan karya ulama terkenal, Imam Abdul Qadir al-Jailani atau al-Jaili, yang aslinya dibaca al-jiilani atau al-Jiili. Beliau masyhur karena memiliki banyak karomah. Beliau adalah Guru Besar mazhab Hanbali di Baghdad; Seorang Imam, ‘Alim, Syaikhul Islam, ‘Arif, Zahid, ‘Alamul Auliya, Muhyiddin. Para tokoh besar ulama seperti Imam Ibnu Qudamah (penulis Al-Mughni), Al-Hafizh Abdul Ghani (penulis Umdatul Ahkam), dan masih banyak lagi, menimba ilmu kepada beliau rahimahullah (Sumber: Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 20, hal. 439-440; al-Hafizh as-Sam’ani, al-Ansab, jilid 3, hal. 462-463). ↩︎
  17. Yakni, menjerumuskan orang-orang ke dalam fitnah dan maksiat dengan menyebabkan mereka meninggalkan shalat berjamaah (Sumber: Syaikh Muhammad al-Amin, Mursyid Dzawil Hija wal Hajah ila Sunan Ibnu Majah, jilid 6, hal 313). 
    ↩︎
  18. Kalimat “Kami/aku lebih menyukai” oleh Imam Ahmad dipahami sebagai amalan yang hukumnya adalah sunnah (Sumber: Majduddin Ibnu Taimiyah, al-Musawwadah fi Ushul Fiqh, hal. 529-530). ↩︎
  19. Beliau adalah Imam Abu Ishaq asy-Syirazi (w. 476 H), termasuk dari kalangan Ashab Wujuh
    thabaqat keempat dalam mazhab Syafi’i, sekaligus penulis kitab berjudul al-Muhadzdzab fi fiqh Imam Syafi’i, yang di kemudian hari disyarah oleh Imam an-Nawawi dengan judul al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab rahimahullah (Sumber: Syaikh Fahd bin Abdillah al-Hubaisy, al-Madkhal Ila Mazhab Imam Syafi’i, hal. 52). ↩︎
  20. Ashab adalah sebuah istilah yang merujuk kepada ahli fikih mazhab Syafi’i dimulai dari murid murid langsung imam Syafi’i sampai tahun 500-an H. Ashab sendiri lebih umum dibanding Ashab Wujuh. (Sumber: Prof. Dr. Abdulazim Muqaddimah Pentahqiq Nihayat Matalib karya Imam al-Juwaini, hal. 143; Prof. Dr. ‘Ali Jum’ah, al-Madkhal Ila Mazdhab Imam Syafi’i, hal. 62).  ↩︎
  21. Sumber: Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi, Fatawa Lajnah Dai’mah, jilid 7, hal. 49; Syaikh al-Utsaimin, transkrip rekaman Jilsat Ramadhaniyyah, jilid 20, hal. 22; Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab, jilid 3, hal. 502)\. ↩︎
  22. Setelah masa Ashab Wujuh, menyusul masa berikutnya yang dikenal dengan istilah Mujtahid Fatwa. Tokoh yang paling menonjol dalam masa ini adalah dua imam: an-Nawawi (w. 676 H) dan ar-Rafi’i (w. 623 H) yang juga termasuk Muhaqqiq generasi muta’akhirin, memiliki jasa besar dalam merapikan, mengoreksi, menyaring, dan menyempurnakan pendapat-pendapat dalam mazhab Syafi’i. Pendapat kedua Imam tersebut juga menjadi sandaran utama ahli fikih Syafiiyah yang datang setelah mereka seperti, al-Hafizh adz-Dzahabi (guru as-Subki), al-Hafizh Ibnu Mulaqqin (murid as-Subki), Ibnu Hajar al-Asqalani (murid Ibnu Mulaqqin), al-Hafizh as-Suyuthi (murid Ibnu Hajar al-Asqalani), al-Hafizh al-Iraqi (guru Ibnu Hajar al-Asqalani), al-Hafizh Ibnu Katsir (guru as-Subki) dan lainnya. Karya dua imam ini menjadi sandaran fatwa dan tarjih dalam menentukan pendapat yang valid untuk dinisbatkan kepada Imam Syafi’i, membedakan pendapat-pendapat mazhab yang secara teknis tidak tepat untuk disandarkan kepada Imam SYafi’i atau dianggap sebagai mazhab beliau, serta pendapat mu’tamad dalam mazhab. Bisa dibilang mereka berdua adalah pendiri kedua bagi mazhab Syafi’i rahimahumallah (Sumber: Muqaddimah tahqiq at-Tadrib fi Fiqh asy-Syafi’i, jilid 1, hal. 32; al-Allamah Zainuddin Ahmad, Fathul Mu’in, hal. 35; Imam al-Isnawi, al-Muhimmat, jilid 1, hal. 322; Syamsyuddin Ibnu al-Ghazzi, Diwan al-Islam, jilid 2, hal. 329-330; Syaikh Fahd, al-Madkhal ila Madzhab Imam Syafi’i, hal. 55-57; Muqaddimah Pentahqiq Nihayat Matalib karya Imam al-Juwaini oleh Prof. Dr. Abdulazim, hal. 153). ↩︎
  23. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad al-Azdi al-Hanafi, kunyahnya Abu Ja’far at-Thahawi. Seorang Imam, al-Allamah, al-Hafizh al-Kabir, serta al-Faqih. Beliau dari penduduk desa Taha bagain dari wilayah Mesir, dan dilahirkan pada tahun 221 H.
    Awalnya beliau bermazhab Syafi’i dan menuntut ilmu ke pamannya, Imam al-Muzani (murid senior Imam Syafi’i), karna satu masalah at-Thahawi meninggalkannya dan berpindah ke al-Hafizh Ahmad bin Abi Imran, salah satu Imam Mazhab Hanafi.
    Diantara muridnya adalah al-Hafizh at-Thabrani, Ahli Hadist terkenal dan penulis Mu’jam al-Wasith. DI antara karya tulisnya yang terkenal adalah Matan Aqidah at-Thahawiyah yang kemudian banyak disyarah, diberikan ta’liq, dan diajarkan hingga saat ini di berbagai pondok dan majelis-majelis ilmu rahimahullah (Sumber: Imam asy-Syirazi, Thabaqat al-Fuqaha, hal. 142; al-Hafizh adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 15, hal. 27-28). ↩︎
  24. Beliau adalah Abul Abbas Ahmad bin Abi Ahmad ath-Thabari asy-Syafi’i, seorang Imam besar dan salah satu dari kalangan Ashab Wujuh dalam mazhab Syafi’i. Beliau wafat di Tharsus tahun 335 H rahimahullah.
    Diantara guru beliau adalah Syaikhul Islam Ibnu Suraij. DI antara karya tulisnya yang paling berharga adalah kitab Talkhis. Imam Nawawi memuji kitab tersebut, “Belum pernah disusun kitab yang serupa dengannya dalam hal metodologi dan sistematika penyajiannya, baik sebelum maupun sesudahnya.” rahimahullah (Sumber: adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 15, hal. 371; Muqaddimah tahqiq at-Tadrib fi Fiqh asy-Syafi’i karya al-Bulqini, jilid 1, hal. 23). ↩︎
  25. Sumber: Imam ar-Rafi’i, asy-Syarhul Kabir, jilid 4, hal. 249-250; Ibnu Qudamah, al-Muqni fi Fiqh Imam Ahmad, hal. 57; Imam al-Mardawi, al-Inshaf, jilid 2, hal 171). ↩︎
  26. Ini adalah transkrip rekaman original Syaikh ketika menjelaskan matan fikih mazhab Hanbali, yaitu Zad al-Mustaqni’, yang kemudian disusun dan dirapikan ulang menjadi sebuah kitab berjudul Syarh al-Mumti‘.
    Zad al-Mustaqni sendiri disusun oleh Imam al-Hajjawi (w. 968 H) sebagai ringkasan dari kitab al-Muqni’ fi Fiqh Imam Ahmad karya Ibnu Qudamah. ↩︎
  27. Nama beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahid bin Ahmad as-Sa’di al-Maqdisi. Lahir di Gunung Qosioun, Damaskus tahun 569 H, dan juga wafat disana. Seorang Syaikh, Imam, al-Hafizh al-Kabir, al-Qudwah, al-Muhaqqiq, al-Mujawwid, al-Hujjah, Baqiyyat Salaf, Dhiya’uddin, penulis yang memiliki banyak karya tulis, dan pemilik riwayat rihlah ilmiah yang sangat luas, mulai dari Damaskus Suriah, Mesir, Baghdad Irak, Asfahan Iran, Naisabur Iran. Herat Afghanistan, Marw Turkmenistan, Halab Suriah, Harran Turki, Hamadzan Iran, Makkah, dan tempat lainnya. Keponakan Ibnu Qudamah dari jalur ibu sekaligus murid beliau, serta berguru kepada Ibnul Jauzi, al-Hafizh Abdul Ghani, dan ulama-ulama lainnya (Sumber: adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 23, hal. 127-129 dan jilid 9, hal. 332; Burhanuddin Ibnu Muflih, al-Maqsad al-Arsyad, jilid 2, hal. 450). ↩︎
  28. Sumber: adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 3, hal. 201; Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Isabah fi Tamyiz as-Sahabat, jilid 1, hal. 175; Syaikh Albani, Irwa al-Ghalil, jilid 2, hal. 170-171; al-Hafizh al-Maqdisi, as-Sunan wal Ahkam, no. 2001; Syaikh at-Tuwaijiri, Mausu’ah al-Fiqh al-Islami, jilid 2, hal. 638; Imam ar-Rafi’i, asy-Syarhul Kabir, jilid 4, hal. 250; as-Shaq’abi, Mudzakkirah, jilid 2, hal. 69 ↩︎
  29. Sumber: Imam as-Sakhawi, al-Qaulul Badi’, hal. 184. ↩︎
  30. Atsarnya telah disebutkan di sub-judul Lafaz Qunut dari sahabat Ubai. ↩︎
  31. Nama lengkap beliau Isma’il bin Ishaq bin Isma’il bin Muhaddist Bashrah Hammad bin Zaid al-Azdi maulahum al-Bashri al-Maliki, dengan kunyah Abu Ishaq. Lahir di Bashrah pada tahun 200 H dan wafat di Baghdad tahun 282 H. Seorang Imam, al-‘Allamah, al-Hafizh, Syaikhul Islam, Qadhi Qudhat wilayah Baghdad, dan pemilik banyak karya tulis. Berguru kepada Imam Isa al-Madani (Pemilik qira’ah Qalun), Amirul Mukminin fil Hadist Ali al-Madini, Syaikhul Islam al-Qa’nabi, dan ulama lainnya. Kedudukan beliau diakui setara dengan Imam Nahwu al-Mubarrid dalam penguasaan Al-Kitab karya Hujjatul ‘Arab Sibawaih rahimahumullah (Sumber: al-Hafizh adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 13, hal. 339-340; Imam asy-Syiirazi, Thabaqat al-Fukaha, hal. 165). ↩︎
  32. Nama lengkap beliau adalah ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abi al-Izz ad-Dimasyqi al-Hanafi, lebih dikenal dengan sebutan “Ibnu Abi al-Izz”. Dilahirkan pada 23 Dzulhijjah tahun 731 H di Damaskus. Seorang Imam, al-‘Allamah, Qadhi Qudhat untuk wilayah Damaskus, kemudian Mesir, kemudian kembali lagi ke Damaskus. Salah satu karya tulisnya yang banyak dipelajari saat ini adalah syarh untuk kitab Matan Aqidah milik Imam at-Thahawi, yang sekarang dicetak dengan nama Syarh Aqidah Thahawiyah (Sumber: Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, jilid 34, hal. 323; Transkrip Rekaman Syarah Matan Aqidah ath-Thahawiyah oleh Prof. Dr. Nashir bin Abdul Karim al-’Aql, Jilid 3, hlm. 3). ↩︎

Halaman: 1211

  1. Az-Zajjaj (w. 310 H): Seorang Imampakar nahwu pada zamannya, Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin as-Sariy az-Zajjaj al-Baghdadi. Beliau merupakan penulis kitab Ma’anil Qur’an dan memiliki banyak karya tulis lainnya rahimahullah. (Sumber: Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 14, hal. 360). ↩︎
  2. Ibnu ‘Allan (w. 1057 H): Beliau adalah Muhammad Ali bin Muhammad ‘Allan bin Ibrahim bin Muhammad ‘Allan, al-Bakri, as-Siddiqi, asy-Syafi’i. Seorang pakar tafsirahli hadis, dan ahli fikih. Jika beliau ditanya tentang suatu permasalahan, beliau akan dengan cepat menyusun sebuah risalah (buku kecil) untuk menjawabnya rahimahullah (Sumber: al-Muhibbi, Khulasat al-Atsar fi A’yan al-Qarn al-Hadi ‘Asyar, jilid, 4, hal. 184-188; az-Zirikli, al-A’lam, jilid 6, hal. 293).  ↩︎
  3. Sumber: Ibnu Qudamah, al-Mughni, jilid 2, hal. 111. ↩︎
  4. Wajh, Wajhan, Wujuh, atau Awjuh merupakan istilah dalam Mazhab Syafi’iyyah merujuk pada pendapat hukum internal Mazhab hasil dari istinbath para Ashab Wujuh. Yang disebutkan disini merupakan pendapat ketiga dalam internal Mazhab, dan menurut Imam Nawawi, inilah pendapat yang kuat dari dua pendapat lainnya berdasarkan dalil yang ada. Ashab Wujuh adalah ahli fikih mazhab Syafi’i yang telah mencapai derajat keilmuan yang sangat tinggi, hingga mereka memiliki ijtihad-ijtihad fikih khusus yang mereka simpulkan berdasarkan kaidah-kaidah ushul Imam Syafi’i tanpa keluar dari darinya. Era mereka dimulai dari abad ke-2 sampai ke-5 H, dan jumlah ulama yang masuk dalam jajaran Ashab Wujuh terbatas dan tidak banyak dibanding keseluruhan dari ahli fikih mazhab Syafi’i yang hidup dalam rentang waktu tersebut (Sumber: Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab, jilid 4, hal. 15; Prof. Dr. Kamal Yasin, Musthalah Mazhab Syafi’i, hal. 46; Imam Ibnu Hajar al-Haytami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubrajiliid 4, hal. 296; Syaikh Fahd bin Abdillah al-Hubaisy, al-Madkhal Ila Mazhab Imam Syafi’i, hal. 36-54; Muqaddimah Pentahqiq Nihayat Matalib karya Imam al-Juwaini oleh Prof. Dr. Abdulazim, hal. 123-129 dan 151).  ↩︎
  5. Sumber: Ibnu Qudamah, al-Mughni, jilid 2, hal. 111. ↩︎
  6. Riwayat disini maksudnya adalah pendapat yang dinukil dari Imam Ahmad oleh para murid beliau. Biasanya Imam Ahmad memiliki beberapa pendapat dalam satu masalah hukum. Dalam masalah ini, Imam Ahmad memiliki dua riwayat; yang pertama, qunut witir hanya dilakukan pada separuh akhir bulan Ramadhan, dan yang kedua yang disebutkan disini. Menurut al-Qadhi Abu Ya’la, riwayat kedua ini merupakan pendapat akhir Imam Ahmad setelah beliau mencabut (ruju’) dari pendapat pertamanya (Lihat: Imam al-Mardawi, al-Inshaf fi Ma’rifat ar-Rajih wal Khilaf, jilid 4, hal. 124; Dr. Khalid, at-Tamadzhub, jilid 1, hal. 476). ↩︎
  7. Lihat: Syaikh Albani, Ashlu Sifat Shalat Nabi, jilid 3, hal. 969-970, catatan kaki no. 1. ↩︎