Fikih Qunut Witir

Mengeraskan Suara ketika Qunut dan Tuntunan Qunut
untuk Imam

Imam dianjurkan untuk mengeraskan suaranya. Dalilnya adalah HR. Bukhari [no. 4560] mengenai qunut nazilah, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulluloh ﷺ ketika hendak mendoakan keburukan atau kebagikan bagi seseorang, beliau akan melakukan qunut setelah ruku. Terkadang juga setelah membaca ‘Sami’allahu liman hamidah, Allahumma Rabbana lakal hamd’:

اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ، وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ

‘Ya Allah, selamatkanlah al-Walid bin al-Walid, Salamah bin Hisyam, dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, keraskanlah siksaan-Mu atas kaum Mudhar, dan timpakanlah kepada mereka tahun-tahun paceklik sebagaimana tahun-tahun yang terjadi pada masa Yusuf.Beliau ﷺ keraskan suaranya saat membaca do’a tersebut.” (Sumber: Imam Bukhari, Sahih Bukhari, no. 4560; Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab, jilid 3, hal. 501).

Sedangkan untuk orang yang shalat sendirian, dianjurkan untuk men-sirr15kan bacaan qunutnya (Sumber: Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab, jilid 3, hal. 501).

Dianjurkan juga untuk imam ketika melakukan doa qunut mengucapkan : ‘اللهم اهدنا ‘Allahummah dina (Ya Allah berilah kami hidayah) dengan jamak (kami), hal ini diterapkan pada seluruh lafaz doa qunutnya. Jika tetap mengucapkan ‘اهدني اللهم ‘Allahummah dini (Ya Allah berikah aku hidayah), qunutnya sah tapi makruh, karna seorang imam dimakruhkan mengkhususkan doa hanya untuk dirinya sendiri (Sumber: al-Hafizh Ibnu Hajar, Nataij al-Afkar fi Takhrij Ahadist al-Adzkar, jilid 2, hal. 162).

Ibnu Muflih (w. 763 H) berkata, “(Imam yang mengkhususkan doa hanya untuk dirinya sendiri) Ada kemungkinan mengarah ke larangan melakukan hal tersebut. Dalam kitab al-Gunyah16disebutkan: Bahwa Imam telah mengkhianati makmum, berdasarkan hadist sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu:

ثَلَاثَةٌ لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَفْعَلَهُنَّ: لَا يَؤُمُّ رَجُلٌ قَوْمًا فَيَخُصُّ نَفْسَهُ بِالدُّعَاءِ دُونَهُمْ، فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ خَانَهُمْ…إلخ الحديث

‘‘Ada tiga hal yang tidak halal dilakukan, pertama seseorang yang mengimami suatu kaum lalu ia mengkhususkan doa untuk dirinya sendiri tanpa menyertaan makmumnya…’. Sanad hadist ini jayyid, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan at-Tirmidzi menghasankannya.” (Sumber: Ibnu Muflih, al-Furu’, jilid 2, hal. 233).

Hadist diatas tidak berlaku pada bagian shalat yang doanya dibaca secara lirih (sirr) dan dilakukan secara mandiri oleh tiap jemaah, seperti do’a istiftah, zikir saat ruku’, doa sujud, duduk di antara dua sujud, sebelum salam, sehingga cakupan hadis yang melarang imam mengkhususkan doa hanya terbatas pada situasi doa bersama yang makmum turut mengaminkan seperti qunut dan yang semisalnya (Sumber: Ibnu Taimiyah,Majmu’ Fatawa, jilid 23, hal. 117-119; Ustadz Dr. Husamuddin, Fatawa Yasalunak, jilid 14, hal. 97-98; al-Allamah al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ at-Tirmidzi, jilid 2, hal. 287)

Makruh bagi imam memperlama bacaan doa qunutnya melebihi batas wajar. Syaikh Bakr berkata, “Hindari memperlama bacaan qunut yang bisa memberatkan makmum, atau doa qunutnya banyak dia tambahi dari lafaz-lafaz yang ada riwayatnya. Tindakan ini dapat menimbulkan kesulitan, ketidakridhoan, serta hilangnya kekhusyukan makmum, dan dikhawatirkan imam akan menanggung dosa karenanya. Jika Nabi ﷺ saja memperingati Mu’adz ketika ia memperlama shalat fardhu: ‘Apakah engkau ingin menjadi fattan17, wahai Mu’adz?’, maka bagaimana lagi dengan amalan sunnah ini!.” (Sumber: Syaikh Bakr, Do’a Qunut, hal. 461; Imam Syarbini. Mughni Muhtaj, jilid 1, hal. 369).

Halaman: 156711

  1.  sirr, batas minimalnya adalah sekadar menggerakkan lisan tanpa suara, sedangkan batas maksimalnya adalah suara yang hanya terdengar oleh diri sendiri (Sumber: Imam Abul Hasan Ali, Kifayat Thalib ar-Rabbani, jilid 1, hal 549). ↩︎
  2. Kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haqq merupakan karya ulama terkenal, Imam Abdul Qadir al-Jailani atau al-Jaili, yang aslinya dibaca al-jiilani atau al-Jiili. Beliau masyhur karena memiliki banyak karomah. Beliau adalah Guru Besar mazhab Hanbali di Baghdad; Seorang Imam, ‘Alim, Syaikhul Islam, ‘Arif, Zahid, ‘Alamul Auliya, Muhyiddin. Para tokoh besar ulama seperti Imam Ibnu Qudamah (penulis Al-Mughni), Al-Hafizh Abdul Ghani (penulis Umdatul Ahkam), dan masih banyak lagi, menimba ilmu kepada beliau rahimahullah (Sumber: Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 20, hal. 439-440; al-Hafizh as-Sam’ani, al-Ansab, jilid 3, hal. 462-463). ↩︎
  3. Yakni, menjerumuskan orang-orang ke dalam fitnah dan maksiat dengan menyebabkan mereka meninggalkan shalat berjamaah (Sumber: Syaikh Muhammad al-Amin, Mursyid Dzawil Hija wal Hajah ila Sunan Ibnu Majah, jilid 6, hal 313). 
    ↩︎