Variasi Lafal Isti’adzah dalam Salat

Terdapat beberapa riwayat mengenai redaksi atau lafal ta’awudz yang dapat digunakan sebelum memulai bacaan Al-Qur’an baik di dalam atau di luar shalat.

1. Lafal Standar (Sesuai Zahir Ayat)

Redaksi yang paling umum adalah:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

(Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk)

Imam Al-Amidi1 menyebutkan bahwa ini adalah riwayat dari Imam Ahmad yang bersandar pada zahir firman Allah ta’ala yang artinya: “Maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” (QS. An-Nahl: 98). Ibnu Mundzir juga menguatkan bahwa terdapat riwayat dari Nabi ﷺ yang menggunakan lafal ini secara rutin sebelum membaca Al-Qur’an.

2. Lafal dengan Tambahan Sifat Allah

Redaksi kedua menyertakan pengakuan atas sifat pendengaran dan pengetahuan Allah:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

(Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)

An-Najjad mencatat tiga riwayat dari Imam Ahmad yang menggunakan lafal ini. Variasi lafal kedua ini menjadi pilihan utama bagi para ulama besar seperti Abu Bakar al-Khallal2, al-Qadhi Abu Ya’la3, al-Amidi4, dan Ibnu Aqil5. Dasarnya adalah penggabungan antara perintah dalam surah An-Nahl dengan ayat lainnya yang artinya: “Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Fussilat: 36)

Ibnu Taimiyah berkata, “menggunakan lafaz isti’adzah ini maknanya lebih mendalam, karna penggunaan huruf ‘إِنَّ’ inna di sini berfungsi sebagai taukid (penegas) bahwa perlindungan Allah diberikan karena Dia Maha Mendengar doa hamba-Nya dan Maha Mengetahui apa yang terbersit dalam hati manusia.”

3. Lafal yang Lebih Panjang dan Detail

Riwayat lain menyebutkan redaksi yang lebih spesifik mengenai gangguan setan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk; dari kegilaannya, kesombongannya, dan hembusan syairnya yang buruk. (HR. Tirmidzi no. (242), dishahihkan Syaikh Albani).

Al-Hafizh Harb al-Kirmani6 mencatat bahwa Ishaq bin Rahuyah7 menjadikan lafal ini sebagai sandaran utama karena bersumber langsung dari Nabi. Meski begitu, Ishaq tetap berpendapat bahwa penggunaan lafal lain tetap sah dan mencukupi.

Riwayat dari Sahabat:

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau terkadang mengucapkan: “A’udzubillahi minasy syaithanir rajim”, atau “A’udzubillahis sami’il ‘alimi minasy syaithanir rajim”. Dalam Mushannaf Abdurrazzaq (2577), Nafi’ (maula Ibnu Umar) menyebutkan bahwa Ibnu Umar juga pernah menggunakan lafal: “Allahumma inni a’udzubika minasy syaithanir rajim”.

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni memberikan simpulan bahwa persoalan lafal isti’adzah ini bersifat longgar. Tidak ada batasan kaku; Bagaimana pun cara seseorang memohon perlindungan (dengan lafal-lafal tersebut), maka itu baik.

Terkait hukum membaca Isti’adzah sebelum memulai bacaan Al-Qur’an, telah dipaparkan disini.

Wallahu ta’ala a’lam

Referensi Utama:

  • Ibnu Taimiyah, Syarh al-Umdah, jilid 2, hal. 598, cet. ‘Athaat al-‘Ilm.
  • ِAl-Hafizh Harb Al-Kirmani, Masa’il Harb al-Kirmani, hal. 388, cet. Muassasah ar-Rayyan: Beirut.
  • Al-Mughni karya Imam Ibnu Qudamah, jilid 2, hal. 145, cet. Dar ‘Alim al-Kutub: RIyadh.

  1. Ali bin Abi Ali bin Muhammad bin Salim ats-Tsa’labi, Al-Imam Abu al-Hasan Saifuddin al-Amidi (w. 631 H).
    Beliau adalah seorang ahli ushul fikih dan ahli kalam, serta termasuk salah satu orang paling cerdas di dunia. Ibnu Taimiyyah berkata tentangnya, “Tidak ada seorang pun di zamannya yang lebih mendalam penguasaannya dalam ilmu kalam dan filsafat selain dirinya. Beliau adalah salah satu yang terbaik keislamannya dan paling lurus akidahnya di antara mereka.” (Thabaqat karya Al-Hafizh As-Subki 8\306 dll) ↩︎
  2. Al-Khallal (w. 311 H): Beliau adalah Al-Imam, Al-’Allamah, Al-Hafizh, Al-Faqih, Syaikh para ulama mazhab Hambali dan pakar mereka, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun bin Yazid al-Baghdadi al-Khallal. Salah satu riwayat beliau dari gurunya Imam Al-Marwadzi dari Imam Ahmad dari Sufyan bin Uyainah yang berkata, “Kekhawatiranmu yang berlebihan terhadap rezeki esok hari dicatat sebagai sebuah dosa”. (Siyar A’lam Nubala 14/297)
    ↩︎
  3. Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H):
    Beliau adalah Al-Imam, Al-’Allamah, ِAl-Qadhi, Guru Besar para ulama mazhab Hambali, Abu Ya’la Muhammad bin Al-Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmad al-Baghdadi.
    Beliau aktif berfatwa dan mengajar hingga banyak melahirkan ulama besar. Kepemimpinan dalam bidang fikih berakhir pada sosok beliau, dan beliau adalah ulama Irak yang paling menonjol di zamannya. Selain itu, beliau memiliki penguasaan mendalam dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an, tafsir, ilmu logika, serta ushul fikih. (Siyar A’lam Nubala 18/89) ↩︎
  4. Saifuddin al-Amidi (w. 631 H), yang telah disebutkan di atas. ↩︎
  5. Ibnu Aqil (w. 513 H):
    Beliau adalah Al-Imam, Al-’Allamah Al-Bahr (samudra ilmu), Guru Besar para ulama mazhab Hambali, Abu al-Wafa’ Ali bin Aqil bin Muhammad al-Baghdadi azh-Zhafaril.
    Salah satu murid utama dari Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H). Beliau dikenal dengan kecerdasan yang luar biasa, luasnya wawasan, serta kedalaman ilmu yang tidak tertandingi di zamannya. Karya monumentalnya yang sangat masyhur adalah kitab Al-Funun yang mencapai lebih dari 400 jilid. Di dalamnya, beliau menghimpun segala diskusi ilmiahnya dengan para ulama dan murid, berbagai pemikiran yang mendalam dan rumit, hingga peristiwa-peristiwa unik yang beliau saksikan. (Siyar A’lam Nubala 19\443) ↩︎
  6. Harb bin Ismail al-Kirmani (w. 281 H):
    Beliau adalah seorang Al-Faqih dan Al-Hafizh, serta merupakan salah satu murid senior Imam Ahmad bin Hanbal. (Thazkirat Al-Huffazh milik Imam Azd-Dzahabi 2\141) ↩︎
  7. Ishaq bin Rahuyah (w. 238 H):
    Beliau adalah Al-Imam Al-Kabir (Imam Besar), Syaikhul Masyriq (Guru Besar wilayah Timur), Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad al-Hanzhali al-Marwazi, yang menetap di Naisabur. Beliau merupakan pemimpin para pakar hadis (Sayyidul Huffazh). Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i berguru dan meriwayatkan hadist dari beliau.
    Salah satu imam kaum muslimin dan ulama besar agama yang menghimpun keahlian dalam bidang hadis dan fikih, kekuatan hafalan dan kejujuran, serta sifat wara’ dan zuhud. Beliau juga merupakan pemilik madzhab mandiri di antara madzhab-madzhab yang telah punah (al-madzahib al-mundatsirah). Rahimahumullah ajma’in (ٍSiyar A’lam Nubala 11\358 dll) ↩︎

  1. Ali bin Abi Ali bin Muhammad bin Salim ats-Tsa’labi, Al-Imam Abu al-Hasan Saifuddin al-Amidi (w. 631 H).
    Beliau adalah seorang ahli ushul fikih dan ahli kalam, serta termasuk salah satu orang paling cerdas di dunia. Ibnu Taimiyyah berkata tentangnya, “Tidak ada seorang pun di zamannya yang lebih mendalam penguasaannya dalam ilmu kalam dan filsafat selain dirinya. Beliau adalah salah satu yang terbaik keislamannya dan paling lurus akidahnya di antara mereka.” (Thabaqat karya Al-Hafizh As-Subki 8\306 dll) ↩︎
  2. Al-Khallal (w. 311 H): Beliau adalah Al-Imam, Al-’Allamah, Al-Hafizh, Al-Faqih, Syaikh para ulama mazhab Hambali dan pakar mereka, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun bin Yazid al-Baghdadi al-Khallal. Salah satu riwayat beliau dari gurunya Imam Al-Marwadzi dari Imam Ahmad dari Sufyan bin Uyainah yang berkata, “Kekhawatiranmu yang berlebihan terhadap rezeki esok hari dicatat sebagai sebuah dosa”. (Siyar A’lam Nubala 14/297)
    ↩︎
  3. Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H):
    Beliau adalah Al-Imam, Al-’Allamah, ِAl-Qadhi, Guru Besar para ulama mazhab Hambali, Abu Ya’la Muhammad bin Al-Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmad al-Baghdadi.
    Beliau aktif berfatwa dan mengajar hingga banyak melahirkan ulama besar. Kepemimpinan dalam bidang fikih berakhir pada sosok beliau, dan beliau adalah ulama Irak yang paling menonjol di zamannya. Selain itu, beliau memiliki penguasaan mendalam dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an, tafsir, ilmu logika, serta ushul fikih. (Siyar A’lam Nubala 18/89) ↩︎
  4. Saifuddin al-Amidi (w. 631 H), yang telah disebutkan di atas. ↩︎
  5. Ibnu Aqil (w. 513 H):
    Beliau adalah Al-Imam, Al-’Allamah Al-Bahr (samudra ilmu), Guru Besar para ulama mazhab Hambali, Abu al-Wafa’ Ali bin Aqil bin Muhammad al-Baghdadi azh-Zhafaril.
    Salah satu murid utama dari Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H). Beliau dikenal dengan kecerdasan yang luar biasa, luasnya wawasan, serta kedalaman ilmu yang tidak tertandingi di zamannya. Karya monumentalnya yang sangat masyhur adalah kitab Al-Funun yang mencapai lebih dari 400 jilid. Di dalamnya, beliau menghimpun segala diskusi ilmiahnya dengan para ulama dan murid, berbagai pemikiran yang mendalam dan rumit, hingga peristiwa-peristiwa unik yang beliau saksikan. (Siyar A’lam Nubala 19\443) ↩︎
  6. Harb bin Ismail al-Kirmani (w. 281 H):
    Beliau adalah seorang Al-Faqih dan Al-Hafizh, serta merupakan salah satu murid senior Imam Ahmad bin Hanbal. (Thazkirat Al-Huffazh milik Imam Azd-Dzahabi 2\141) ↩︎
  7. Ishaq bin Rahuyah (w. 238 H):
    Beliau adalah Al-Imam Al-Kabir (Imam Besar), Syaikhul Masyriq (Guru Besar wilayah Timur), Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad al-Hanzhali al-Marwazi, yang menetap di Naisabur. Beliau merupakan pemimpin para pakar hadis (Sayyidul Huffazh). Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i berguru dan meriwayatkan hadist dari beliau.
    Salah satu imam kaum muslimin dan ulama besar agama yang menghimpun keahlian dalam bidang hadis dan fikih, kekuatan hafalan dan kejujuran, serta sifat wara’ dan zuhud. Beliau juga merupakan pemilik madzhab mandiri di antara madzhab-madzhab yang telah punah (al-madzahib al-mundatsirah). Rahimahumullah ajma’in (ٍSiyar A’lam Nubala 11\358 dll) ↩︎