Makmum Mengaminkan Doa Imam
Dalam pelaksanaan qunut Witir, makmum disunnahkan untuk mengaminkan doa yang dipimpin oleh imam dengan menjahrkannya. Imam Ahmad berkata, “Kami lebih menyukai18agar imam berqunut dan makmum di belakangnya mengaminkan”. (Sumber: Imam Syarbini [w. 977 H], Mughni Muhtaj ila Makrifati Alfazh al-Minhaj, jilid 1, hal. 361; Imam al-Marwadzi, Mukhtashar Qiyam Lail, hal. 326).
Imam Nawawi berkata, “Penulis19dan para Ashab20menggunakan hadis riwayat Abu Dawud dari Ibnu Abbas sebagai dalil. Hadis tersebut menceritakan Rasulullah ﷺ melakukan qunut nazilah selama satu bulan penuh untuk mendoakan kabilah Bani Sulaim, di mana para makmum di belakang beliau turut mengaminkannya. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan atau shahih” (Sumber: Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab, jilid 3, hal. 502).
Saat imam melakukan qunut, makmum mengaminkan lafaz yang mengandung unsur permohonan (doa) dan shalawat kepada nabi. Adapun pada bagian lafaz yang maknanya adalah pujian kepada Allah, seperti kalimat “Fa innaka taqdhi wala yuqdha ‘alaik” yang maknanya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya, dan tidak ada seorang pun yang bisa mengatur Allah. dan semisalnya, maka makmum memiliki pilihan; mengucapkan Subhanallah, ikut mengucapkan lafaz tsana’ bersama imam, atau diam. Namun, menurut Imam Nawawi yang lebih utama ikut membaca tsana bersama imam karena bagian tersebut berisi pujian dan zikir, dan juga tidak pas jika di respon dengan ucapan ‘Amin’21.
Jika makmum tidak mendengar qunut imam, mungkin karna gangguan
pendengaran, jauhnya dia dari suara imam (dengan atau tanpa mik),
mendengar tapi gak begitu jelas apa yang diucapkan imam, atau alasan yang
semisalnya, maka dia membaca qunut sendiri dengan sirr (Sumber: Abu Dawud, Masa’il Imam Ahmad, hal. 102; Imam al-Mardawi, al-Inshaf fi Ma’rifati Rajih wal Khilaf, jilid 4, hal. 131; Imam Nawawi, al-Majmu’ SYarh al-Muhadzzab, jild 3, hal. 502).
- Kalimat “Kami/aku lebih menyukai” oleh Imam Ahmad dipahami sebagai amalan yang hukumnya adalah sunnah (Sumber: Majduddin Ibnu Taimiyah, al-Musawwadah fi Ushul Fiqh, hal. 529-530). ↩︎
- Beliau adalah Imam Abu Ishaq asy-Syirazi (w. 476 H), termasuk dari kalangan Ashab Wujuh
thabaqat keempat dalam mazhab Syafi’i, sekaligus penulis kitab berjudul al-Muhadzdzab fi fiqh Imam Syafi’i, yang di kemudian hari disyarah oleh Imam an-Nawawi dengan judul al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab rahimahullah (Sumber: Syaikh Fahd bin Abdillah al-Hubaisy, al-Madkhal Ila Mazhab Imam Syafi’i, hal. 52). ↩︎ - Ashab adalah sebuah istilah yang merujuk kepada ahli fikih mazhab Syafi’i dimulai dari murid murid langsung imam Syafi’i sampai tahun 500-an H. Ashab sendiri lebih umum dibanding Ashab Wujuh. (Sumber: Prof. Dr. Abdulazim Muqaddimah Pentahqiq Nihayat Matalib karya Imam al-Juwaini, hal. 143; Prof. Dr. ‘Ali Jum’ah, al-Madkhal Ila Mazdhab Imam Syafi’i, hal. 62). ↩︎
- Sumber: Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi, Fatawa Lajnah Dai’mah, jilid 7, hal. 49; Syaikh al-Utsaimin, transkrip rekaman Jilsat Ramadhaniyyah, jilid 20, hal. 22; Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab, jilid 3, hal. 502)\. ↩︎