Fikih Qunut Witir

Hukum Mengusap Wajah Setelah Berdoa Qunut

Imam Nawawi menyatakan bahwa tidak mengusap wajah setelah do’a qunut adalah pendapat yang kuat dalam Mazhabnya, didukung oleh al-Baihaqi (penulis Sunan al-Kubra), ar-Rafi’i (w. 623 H), serta para muhaqqiq (pakar peneliti) mazhab Syafii lainnya22.

Kemudian Imam Nawawi menukil ucapan al-Baihaqi, “Aku tidak menemukan riwayat dari seorang ulama salaf yang mengusap wajahnya setelah berdoa dalam qunut, meskipun ada riwayat bahwa mereka melakukannya di luar shalat. Memang terdapat riwayat dari Nabi ﷺ mengenai hal ini, namun sanad-sanad tersebut memiliki kelemahan. Hal inilah yang mendasari sebagaian ulama tetap mengamalkannya jika doa dilakukan di luar shalat. Sedangkan di dalam shalat, praktik tersebut tidak memiliki sandaran kuat baik dari sisi hadist, atsar para sahabat yang bisa dijadikan hujjah, maupun menggunakan qiyas. Karena itu, mencukupkan diri dengan mengikuti jejak para ulama salaf, yaitu sekedar mengangkat tangan tanpa mengusapkannya ke wajah saat shalat (qunut) lebih afdhal.” (Sumber: Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab, jilid 3, hal. 501; Imam Nawawi, al-Adzkar, hal. 137).

Lafaz Qunut

Dalam doa qunut tidaklah terpaku pada doa tertentu. Doa apa pun yang dipanjatkan, qunutnya dianggap sah, bahkan jia dia hanya menggunakan satu atau dua ayat al-Qur’an yang mengandung unsur do’a. Namun tetap yang paling afdhal adalah mengamalkan doa-doa yang bersumber dari sunnah Nabi  (Sumber: al-Hafizh Ibnu Hajar, Nataij al-Afkar fi Takhrij Ahadist al-Adzkar, jilid 2, hal. 162) 

Berikut adalah bacaan-bacaan dalam qunut yang bersumber dari ajaran Rasulullah dan praktik para sahabat: 

1. Qunut Hasan bin Ali 

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

(HR. Abu Dawud no. 1425. Dishahihkan oleh Syaikh Albani).

2. Qunut Umar bin Khattab 

Tabi’in Ubaid bin Umair menceritakan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu melakukan qunut setelah ruku dan membaca do’a berikut: 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، اللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ، وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ، اللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُثْنِي عَلَيْكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَخْشَى عَذَابَكَ الْجِدَّ، وَنَرْجُو رَحْمَتَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

Atsar ini bersambung sampai sahabat Ibnu Umar dengan sanad yang shahih. Dikeluarkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 3143 (Sumber: al-Hafizh Ibnu Mulaqqin, al-Badru al-Munir, jilid 4, hal. 371).

Atsar ini juga diriwayatkan oleh banyak ahli hadist dengan versi yang lebih pendek dan sedikit berbeda. Diantaranya oleh al-Hafizh at-Thahawi23 (w. 321 H) dalam kitabnya Syarh Ma’ani al-Atsar no. 1475 mengeluarkan hanya dengan lafaz:

اللهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ , وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَنَشْكُرُكَ وَلَا نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ اللهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّي , وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ

Sanad atsar ini dishahihkan Syaikh Albani dalam kitabnya Irwa’ al-Ghalil jilid, 2, hal. 165.

Lafaz qunut inilah yang sering dinukil oleh para Imam mazhab untuk dianjurkan dibaca dan digabungkan dengan qunut Hasan yang di atas. Imam ar-Rafi’i berkata, “Para Imam dari Mazhab Syafi’i, diantaranya pemilik kitab Talkhis24, menganjurkan lafaz qunut ini digabungkan dengan qunut Hasan, urutannya adalah lafaz qunut ini terlebih dahulu, kemudian baru lafaz qunut Hasan bin Ali.25

Syaikh Ustaimin menjelaskan alasannya, karna lafaz qunut Umar ini adalah pujian (tsana’). Dalam adab berdoa secara umum, pujian kepada Allah Ta’ala didahulukan sebagai pembuka dari do’a (Sumber: Syaikh al-Utsaimin, transkrip rekaman Syarh Zad al-Mustaqni’26, jilid 1, hal. 1625).

Halaman: 178911

  1. Setelah masa Ashab Wujuh, menyusul masa berikutnya yang dikenal dengan istilah Mujtahid Fatwa. Tokoh yang paling menonjol dalam masa ini adalah dua imam: an-Nawawi (w. 676 H) dan ar-Rafi’i (w. 623 H) yang juga termasuk Muhaqqiq generasi muta’akhirin, memiliki jasa besar dalam merapikan, mengoreksi, menyaring, dan menyempurnakan pendapat-pendapat dalam mazhab Syafi’i. Pendapat kedua Imam tersebut juga menjadi sandaran utama ahli fikih Syafiiyah yang datang setelah mereka seperti, al-Hafizh adz-Dzahabi (guru as-Subki), al-Hafizh Ibnu Mulaqqin (murid as-Subki), Ibnu Hajar al-Asqalani (murid Ibnu Mulaqqin), al-Hafizh as-Suyuthi (murid Ibnu Hajar al-Asqalani), al-Hafizh al-Iraqi (guru Ibnu Hajar al-Asqalani), al-Hafizh Ibnu Katsir (guru as-Subki) dan lainnya. Karya dua imam ini menjadi sandaran fatwa dan tarjih dalam menentukan pendapat yang valid untuk dinisbatkan kepada Imam Syafi’i, membedakan pendapat-pendapat mazhab yang secara teknis tidak tepat untuk disandarkan kepada Imam SYafi’i atau dianggap sebagai mazhab beliau, serta pendapat mu’tamad dalam mazhab. Bisa dibilang mereka berdua adalah pendiri kedua bagi mazhab Syafi’i rahimahumallah (Sumber: Muqaddimah tahqiq at-Tadrib fi Fiqh asy-Syafi’i, jilid 1, hal. 32; al-Allamah Zainuddin Ahmad, Fathul Mu’in, hal. 35; Imam al-Isnawi, al-Muhimmat, jilid 1, hal. 322; Syamsyuddin Ibnu al-Ghazzi, Diwan al-Islam, jilid 2, hal. 329-330; Syaikh Fahd, al-Madkhal ila Madzhab Imam Syafi’i, hal. 55-57; Muqaddimah Pentahqiq Nihayat Matalib karya Imam al-Juwaini oleh Prof. Dr. Abdulazim, hal. 153). ↩︎
  2. Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad al-Azdi al-Hanafi, kunyahnya Abu Ja’far at-Thahawi. Seorang Imam, al-Allamah, al-Hafizh al-Kabir, serta al-Faqih. Beliau dari penduduk desa Taha bagain dari wilayah Mesir, dan dilahirkan pada tahun 221 H.
    Awalnya beliau bermazhab Syafi’i dan menuntut ilmu ke pamannya, Imam al-Muzani (murid senior Imam Syafi’i), karna satu masalah at-Thahawi meninggalkannya dan berpindah ke al-Hafizh Ahmad bin Abi Imran, salah satu Imam Mazhab Hanafi.
    Diantara muridnya adalah al-Hafizh at-Thabrani, Ahli Hadist terkenal dan penulis Mu’jam al-Wasith. DI antara karya tulisnya yang terkenal adalah Matan Aqidah at-Thahawiyah yang kemudian banyak disyarah, diberikan ta’liq, dan diajarkan hingga saat ini di berbagai pondok dan majelis-majelis ilmu rahimahullah (Sumber: Imam asy-Syirazi, Thabaqat al-Fuqaha, hal. 142; al-Hafizh adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 15, hal. 27-28). ↩︎
  3. Beliau adalah Abul Abbas Ahmad bin Abi Ahmad ath-Thabari asy-Syafi’i, seorang Imam besar dan salah satu dari kalangan Ashab Wujuh dalam mazhab Syafi’i. Beliau wafat di Tharsus tahun 335 H rahimahullah.
    Diantara guru beliau adalah Syaikhul Islam Ibnu Suraij. DI antara karya tulisnya yang paling berharga adalah kitab Talkhis. Imam Nawawi memuji kitab tersebut, “Belum pernah disusun kitab yang serupa dengannya dalam hal metodologi dan sistematika penyajiannya, baik sebelum maupun sesudahnya.” rahimahullah (Sumber: adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 15, hal. 371; Muqaddimah tahqiq at-Tadrib fi Fiqh asy-Syafi’i karya al-Bulqini, jilid 1, hal. 23). ↩︎
  4. Sumber: Imam ar-Rafi’i, asy-Syarhul Kabir, jilid 4, hal. 249-250; Ibnu Qudamah, al-Muqni fi Fiqh Imam Ahmad, hal. 57; Imam al-Mardawi, al-Inshaf, jilid 2, hal 171). ↩︎
  5. Ini adalah transkrip rekaman original Syaikh ketika menjelaskan matan fikih mazhab Hanbali, yaitu Zad al-Mustaqni’, yang kemudian disusun dan dirapikan ulang menjadi sebuah kitab berjudul Syarh al-Mumti‘.
    Zad al-Mustaqni sendiri disusun oleh Imam al-Hajjawi (w. 968 H) sebagai ringkasan dari kitab al-Muqni’ fi Fiqh Imam Ahmad karya Ibnu Qudamah. ↩︎