Fikih Qunut Witir

Shalawat Kepada Nabi dalam Do’a Qunut

Para ulama dari mazhab Hanabilah, Syafi’iyah (as-Shahih), termasuk Imam Syafi’i29, dan Imam Ahmad, menganjurkan untuk bershalawat kepada Nabi ﷺ diakhir doa qunut (Sumber: Imam al-Mardawi, al-Inshaf, jilid 2, hal. 171; Imam Nawawi, al-Majmu’, jilid 3, hal. 499). 

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata,“Kemudian ia membaca shalawat kepada Nabi ﷺ di akhir doa qunutnya, sebagaimana hal itu diriwayatkan dari para sahabat seperti, Ubai bin Ka’ab30, dan Mu’adz al-Anshari” (Sumber: Syaikh Bakr, Do’a Qunut, hal. 461). 

Tabi’in Abdullah bin al-Harits menceritakan bahwa dahulu sahabat Mu’adz al-Anshari bershalawat kepada Nabi ﷺ di dalam doa qunutnya. Atsar ini statusnya sahih dikeluarkan al-Qadhi Isma’il31 dalam kitabnya Fadhlu Sholat ala Nabi ﷺ, no. 107 (Sumber: al-Hafizh Ibnu Hajar, Nataij al-Afkar fi Takhrij Ahadist al-Adzkar, jilid 2, hal. 157).

Do’a Allahumma Inni A’udzu bi Ridhaka min Sakhatika

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya no. 751, sebuah hadist dari sahabat Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi biasa mengucapkan do’a ini diakhir shalat witirnya,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي آخِرِ وِتْرِهِ:  اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Ya Allah, aku berlindung dengan rida-Mu dari murka-Mu, aku berlindung
dengan maaf-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu.
Aku tidak mampu menghitung pujian bagi-Mu
, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”

Hadistnya dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam kitabnya Irwa al-Ghalil no.
430.

Ucapan Ali “di akhir witirnya” pada riwayat tersebut, para ulama berbeda
pandangan ketika menafsirkan tempatnya.

Imam Ibnul Izz al-Hanafi32 (w. 792 H) berkata, “doa tersebut bukan
dibaca ketika qunut, baik yang dilakukan sebelum atau sesudah ruku’.
Kemungkinan besar do’a ini dibaca setelah tasyahud akhir sebelum salam,
karena posisi tersebut merupakan waktu yang disepakati oleh ijma ulama
sebagai tempat untuk berdoa.”

Halaman: 191011

  1. Sumber: Imam as-Sakhawi, al-Qaulul Badi’, hal. 184. ↩︎
  2. Atsarnya telah disebutkan di sub-judul Lafaz Qunut dari sahabat Ubai. ↩︎
  3. Nama lengkap beliau Isma’il bin Ishaq bin Isma’il bin Muhaddist Bashrah Hammad bin Zaid al-Azdi maulahum al-Bashri al-Maliki, dengan kunyah Abu Ishaq. Lahir di Bashrah pada tahun 200 H dan wafat di Baghdad tahun 282 H. Seorang Imam, al-‘Allamah, al-Hafizh, Syaikhul Islam, Qadhi Qudhat wilayah Baghdad, dan pemilik banyak karya tulis. Berguru kepada Imam Isa al-Madani (Pemilik qira’ah Qalun), Amirul Mukminin fil Hadist Ali al-Madini, Syaikhul Islam al-Qa’nabi, dan ulama lainnya. Kedudukan beliau diakui setara dengan Imam Nahwu al-Mubarrid dalam penguasaan Al-Kitab karya Hujjatul ‘Arab Sibawaih rahimahumullah (Sumber: al-Hafizh adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 13, hal. 339-340; Imam asy-Syiirazi, Thabaqat al-Fukaha, hal. 165). ↩︎
  4. Nama lengkap beliau adalah ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abi al-Izz ad-Dimasyqi al-Hanafi, lebih dikenal dengan sebutan “Ibnu Abi al-Izz”. Dilahirkan pada 23 Dzulhijjah tahun 731 H di Damaskus. Seorang Imam, al-‘Allamah, Qadhi Qudhat untuk wilayah Damaskus, kemudian Mesir, kemudian kembali lagi ke Damaskus. Salah satu karya tulisnya yang banyak dipelajari saat ini adalah syarh untuk kitab Matan Aqidah milik Imam at-Thahawi, yang sekarang dicetak dengan nama Syarh Aqidah Thahawiyah (Sumber: Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, jilid 34, hal. 323; Transkrip Rekaman Syarah Matan Aqidah ath-Thahawiyah oleh Prof. Dr. Nashir bin Abdul Karim al-’Aql, Jilid 3, hlm. 3). ↩︎