Apakah Seluruh Bagian Tubuh Anjing Najis?

Sengaja cuman nyebutin dalil dari satu pendapat aja. Ngikutin pola nya Ibnu Taimiyah di kitab belliau al-Fatawa al-Kubra, disana beliau cukup sering ketika menjawab masalah cabang fiqih. Beliau hanya menyebutkan adanya perbedaan pendapat secara ringkas, lalu menyebutkan ulama mana saja yang berpendapat. Setelah itu beliau hanya menjabarkan dalil dan argumentasi dari pendapat yang beliau anggap kuat.

Karna kalo nyebutin semua dalil dari masing-masing pendapat itu kayak kitab-kitab fiqh muqaran. Juga nguras tenaga kalo modelnya nyebutin semua dalil dari semua pendapat. Satu dalil dari satu pendapat aja udah cukup nguras tenaga buat mahamin dan nyari-nyari dari banyak referensi.

Jadi lebih mirip kayak model penulisan kitab-kitab fikih madzhab tertentu. Contoh dalam madzhab Hanbali, Ibnu Qudamah dalam kitabny al-Kaafi yang cuman nyebutin dalil dari madzhab beliau sendiri, gak kayak kitab beliau al-Mughni yang memang lebih banyak membahas perbedaan pendapat ulama antar madzhab dan juga dalil-dalil mereka.

  1. Fatawa Lajnah ad-Da’imah, jilid 4, hal. 196. ↩︎
  2. Sumber: Imam Ibnu Nujaim al-Hanafi (w. 970 H), al-Bahru ar-Raiq, jilid 1, hal. 107; Imam al-Haskhafi (w. 1088 H), ad-Durrul Mukhtar, hal. 34; Imam Ibnu Mazah (w. 616 H), al-Muhith, jilid 1, hal. 103]. ↩︎
  3. Madzhab Hanafi sendiri dalam masalah ini terbagi menjadi dua kubu. Masing-massing kubu mengklaim bahwa kubu nya lah yang menjadi pendapat shahih dalam madzhab. Tapi kalo diliat dari banyak referensi kitab-kitab dan ulama-ulama Hanafi dalam masalah ini, mayoritas dari mereka, seperti Imam al-Kasani al-Hanafi (w. 587 H), Imam al-Marghinani (w. 593 H), Imam al-Atqani (w. 685 H), Imam al-Kaaki (w. 749 H), Imam as-Saghnaqi (w. 710 H), al-Qadhi Ibnu Wahban (w. 727 H), dan masih banyak lagu. Termasuk al-Hasan bin Ziyad (w. 204 H), salah satu murid senior Imam Abu Hanifah, berpendapat demikian [sumber: Imam Ibnu Nujaim al-Hanafi (w. 970 H), al-Bahru ar-Raiq, jilid 1, hal. 107; Imam Ibnu Mazah (w. 616 H), al-Muhith, jilid 1, hal. 103; Imam al-Haskhafi (w. 1088 H), ad-Durrul Mukhtar, hal. 34; al-Hafizh al-‘Aini (w. 855 H), al-Binayah Syarh al-Hidayah, jilid 1, hal. 415; Imam al-Marghinani (w. 593 H), al-Hidayah, jilid 1, hal. 23]. ↩︎
  4. Imam Ahmad di sebutkan memiliki beberapa pendapat dalam masalah ini, salah satunya yang sekarang sedang di sebutkan [Lihat: Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, al-Fatawa al-Kubra, jilid 1, hal. 264; al-Qadhi Ibnu Muflih (w. 884 H), al-Mubdi’, jilid 1, hal. 348; Imam al-Mardawi al-Hanbali (w. 885 H), al-Inshaf, jilid 1, hal. 310]. ↩︎
  5. Yakni seluruh tubuh anjing, bagian luar maupun bagian dalamnya, dihukumi najis. Tanpa terkecuali. Ini seperti kotoran manusia yang dihukumi sebagai najis ‘ain. ↩︎
  6. Sebagian dari ulama madzhab Hanafi, termasuk tiga murid senior Imam Abu Hanifah, Imam al-Qadhi Abu Yusuf (w. 182 H), Imam Muhammad bin al-hasan (w. 189 H), dan Imam al-Hasan bin Ziyad (salah satu riwayat) [sumber: al-Hafizh al-‘Aini (w. 855 H), al-Binayah Syarh al-Hidayah, jilid 1, hal. 415; ↩︎
  7. Imam Nawawi asy-Syafi’i, al-Majmu’, jilid 2, hal. 586. ↩︎
  8. Ibnu Qudamah al-Hanbali, al-Mughni, jilid 1, hal. 35-36 ↩︎
  9. Ibnu Qudamah al-Hanbali, al-Mughni, jild 2, hal, 67; Ibnu taimiyah, al-Fatawa al-Kubra, jilid 1, hal. 264. ↩︎
  10. Dalil pertama ini saya ambil dari penjelasan Ibnu Taimiyah dalam kitabn beliau al-Fatawa al-Kubra, jilid 1, hal. 264-266. ↩︎
  11. ini merupakan cabang dari kaidah lima besar fikih, yaitu “اليقين لا يزول بالشك”. Kaidah cabangnya berbunyi “الأصلُ في الأشياءِ الطَّهارةُ
    “, yang maknanya adalah hukum asal segala sesuatu adalah suci. Maka wajib menghukumi kesuciannya sampai ada dalil yang menunjukkan bahwa sesuatu tersebut najis [Lihat: Ibnu Taimiyah, al-Majmu’ al-Fatawa, jilid 21, hal. 542; Imam Ibnu Mazah al-Hanafi (w. 616 H), al-Muhith, jilid 5, hal. 361; al-Hafizh al-‘Iraqi asy-Syafi’i (w. 806 H), Tharhu at-Tatsrib, jilid 2, hal. 114; Imam Ibnu Hazm adz-Dzahiri (w. 456 H), al-Muhalla, jilid 2, hal. 394; Dr. Fadhl, al-Qawa’id al-Umm, hal. 592]. ↩︎
  12. Yakni bulu dari hewan-hewan tertentu yang sudah menjadi bangkai (najis), tapi bulu nya tetap dihukumi suci. ↩︎
  13. Dalam ushul fiqh, ‘illah adalah penyebab atau alasan suatu hukum berlaku, yang artinya jika ‘illahnya tidak ada, maka hukum nya tidak berlaku. Seperti safar menjadi ‘illah bolehnya mengqashar shalat, jika safar tidak ada, maka tidak boleh mengqashar shalat (Dr. ‘Iyadh, Ushul Fiqh, hal. 146). ↩︎
  14. Rasululloh bersabda yang artinya, “Barang siapa memelihara anjing, selain anjing untuk berburu atau menjaga ternak, pahalanya akan berkurang dua qirath setiap hari.HR. Bukhari, no. 5481.

    Dari hadist ini mayoritas ulama dari madzhab Hanafi berpendapat bahwa kalau anjing ini najis ‘ain, tentunya tidak boleh diambil manfaatnya. Karna sesuatu yang dihukumi sebagai najis ‘ain tidak boleh dimanfaatkan menurut syariat, kecuali dalam keadaan darurat (referensinya bisa lihat di footnote no. 17) ↩︎
  15. Menjaga peternakan, ladang, dan semisalnya dari hal-hal yang tidak diinginkan [lihat: Imam al-Khottobi (w. 388 H), Ma’alim as-Sunan, jilid 4, hal. 206]. ↩︎
  16. Perlu diingat kalo ini diperbolehkan menurut madzhab Hanafi. Karna masalah jual beli anjing sendiri ada khilaf (Lihat: Ibnu Qudamah, al-Mughni, jilid 4, hal. 189-190). ↩︎
  17. Imam al-Kasani al-Hanafi (w. 587 H), Badai’ ash-Shanai, jilid 5, hal. 143; al-Hafizh al-‘Aini al-Hanafi (w. 855 H), al-Binayah Syarh al-Hidayah, jilid 1, hal. 419; Imam al-Babarti al-Hanafi (w. 786 H), al-‘Inayah Syarh al-Hidayah, jilid 1, hal. 93; Imam al-Marghinani al-Hanafi (w. 593 H, al-Hidayah, jilid 3, hal. 77-78 dan jilid 1, hal. 23; Imam Ibnu Nujaim al-Hanafi (w. 970 H), al-Bahru ar-Raiq, jilid 1, hal. 106-107 . ↩︎
  18. Pendapat yang beliau sampaikan ini murni dari ijtihadi beliau. Beliau sendiri merupakan seorang mujtahid yang juga menjabat sebagau qadhi qudhat di wilayah yaman [sumber: al-‘Allamah al-‘Amir Shadiq Hasan Khan (w. 1307 H), at-Taj wal Iklil, hal. 436-437; Mu’arrikh az-Zirikli (w. 1396 H), al-A’lam, jilid 6, hal. 298]. ↩︎
  19. Hadist nya shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, no. 174. Tapi cukup banyak sudut pandang ulama memahami hadist ini, yang mungkin akan saya tulis di tempatnya tersendiri. Almuhim, hadist ini dijadikan dalil oleh ‘Allamah asy-Syaukani bahwa kurang tepat jika bagian tubuh lainnya dari anjing adalah najis dengan meng-qiyas kannya terhadap liur anjing. ↩︎
  20. Abu Muhammad Abdullah bin Ibrahim (w. 392 H). Salah satu periwayat kitab Shahih Bukhari dari Imam Abu Zaid al-Marwadzi, yang kemudian beliau sebarkan di wilayah Andalusia. Riwayat beliau termasuk yang terbaik dari jalur Imam Abu zaid al-Marwadzi. Abu Zaid al-Marwadzi sendiri mengambil Shahih Bukhari dari al-Farabri, murid dari Imam Bukhari (lihat: Dr. Jum’ah, Riwayat al-Jaami’, jilid 1, hal. 380; al-hafizh adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 15, hal. 10). ↩︎
  21. asy-Syaukani, aas-Sailul Jarrar al-Mutadaffiq ‘ala hada’iq al-azhar, hal. 26. ↩︎
  22. Ibnu Taimiyah, al-Qawa;id an-Nuraniyyah, hal. 33. ↩︎
  23. وَالْكَلَامُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ وَمَا يَتَفَرَّعُ مِنْهُ مُنْتَشِرٌ جِدًّا، وَيُمْكِنُ أَنْ يُفْرَدَ بِالتَّصْنِيفِ، وَلَكِنَّ هَذَا الْقَدْرَ كَافٍ فِي هَذَا الْمُخْتَصَرِ. وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ. الفتح 1\278 ↩︎
BACA JUGA  Apakah Khamr Najis?

Halaman: 1456