Di sebuah majlis, tiga ulama besar pada zamannya bertemu: Syaikhul Islam Ibnu Daqiq al-’Ied asy-Syafi’i (w. 702 H), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah al-Hanbali (w. 728 H), dan Imam Besar Nahwu al-Hafizh Abu Hayyan al-Andalusi (w. 745 H).

Latar belakang pertemuan mereka, saat itu bangsa Tatar (Mongol) telah sampai di perbatasan Syam tahun 700 H, Ibnu Taimiyah segera berangkat ke Mesir. Saat itu beliau sedang berada di Damaskus, Suriah. Setiba di Mesir, Ibnu Taimiyah mendesak Sultan (penguasa) Mesir untuk memerangi Tatar.

Diadakanlah sebuah majlis yang dihadiri para tokoh besar, diantaranya tiga ulama besar tadi. Setelah Ibnu Taimiyah selesai berbicara di pertemuan tersebut, Ibnu Daqiq memuji, “Aku tidak menyangka Allah masih menyisakan makhluk sepertimu1.”

Usai pertemuan selesai, orang-orang ingin mendengar pendapat Ibnu Daqiq mengenai sosok Ibnu Taimiyah, beliau menjawab, “Beliau orang yang memiliki daya ingat yang sangat luar biasa.” Kemudian Ibnu Daqiq ditanya lagi, “Kenapa engkau nggak coba diskusi dengannya.” Ibnu Daqiq menjawab, “Beliau orangnya suka bicara, sedangkan saya lebih suka diam.”

Kemudian Ibnu Daqiq menceritakan di majlis itu pertemuan antar Ibnu Taimiyah dan Abu Hayyan, “Di majlis itu, turut hadir Syaikh Besar Nahwu Abu Hayyan, beliau berkata, ‘Mataku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah’. lalu Abu Hayyan memuji Ibnu Taimiyah dengan bait-bait indah:

Ketika kami bertemu dengan Taqiyuddin (Ibnu Taimiyah), kami melihat seorang da’i yang berdiri sendiri tanpa tandingan..

Di wajahnya terpancar ciri-ciri para sahabat Nabi. Dan wajahnya memancarkan cahaya yang bahkan mengungguli cahaya bulan..

Seorang ulama yang sepanjang hidupnya diselimuti ilmu, bagai lautan yang dari gelombangnya berhamburan mutiara-mutiara..

Ibnu Taimiyah berdiri membela syariat kita, laksana berdirinya tokoh Bani Ta’im ketika Mudhar memberontak..

Dia Tampakkan kebenaran ketika jejak-jejaknya mulai hilang, dan memadamkan keburukkan ketika percik apinya mulai bertebangan..

Dulu kami sering menceritakan akan datangnya seorang ulama yang membawa ini, dan kaulah sang imam yang selama ini ditunggu-tunggu.”

Ibnu Daqiq juga pernah berkata mengenai Ibnu Taimiyah, “Ketika aku bertemu Ibnu Taimiyah, aku melihat seorang lelaki yang seolah seluruh ilmu terpampang di depan matanya, dia mengambil yang dia mau dan meninggalkan yang dia mau.” Rahimahumullah Ajma’in.

Wallahu ta’ala a’lam

Pangkalanbun, 01.49 AM.
Malam yang sunyi, tenang, gak iso turu.

Sumber refrensi cerita:

Imam Mar’i al-Karmi al-Hanbali (w. 1033 H), asy-Syahadah az-Zakiyyah fi Atsna’ al-A’immah ‘ala Ibnu Taimiyah, hlm. 28-29.
al-Qadhi al-Faqih Zainuddin Ibnu al-Wardi asy-Syafi’i (w. 749 H), Tarikh Ibnu al-Wardi, jilid 2, hal. 278.
al-Qadhi Syihabuddin Ibnu Fadhlullah asy-Syafi’i (w. 749 H), Masalik al-Abshar fi Mamalik al-Amshar, jilid 5, hal. 698.

Sumber refrensi bahasa:

Imam al-Fairuzabadi (w. 817 H), al-Qamus al-Muhith, hlm 370, untuk kata الحبر-حبر.
Imam al-Jauhari (w. 398 H), as-Sahhah Taj al-Lughah, jilid 2, hlm. 695, untuk kata الشرر.
Para pakar bahasa dari Akademi Bahasa Arab di Kairo, Mu’jam al-Wasith, jilid 1, hlm. 279, untuk kata درس.
al-‘Allamah Murthadha az-Zabidi, Taaj al-‘Urus min Jawahir al-Qamus, jilid 7, hlm. 105, untuk kata لاح.

  1. Maksudnya, aku tidak pernah menyangka akan muncul orang sepertimu dalam hal ilmu dan hafalan. Ungkapan ini kurang lebih sama seperti perkataan al-Hafizh al-Mizzi dan ulama lainnya yang memuji Ibnu Taimiyah, ‘belum pernah terlihat orang yang sebanding dengan Ibnu Taimiyah selama sekitar lima ratus tahun.” (sumber: catatan kaki dari pentahqiq kitab al-Uqud ad-Duriyyah, Syaikh Dr. ‘Ali bin Muhammad). ↩︎

  1. Maksudnya, aku tidak pernah menyangka akan muncul orang sepertimu dalam hal ilmu dan hafalan. Ungkapan ini kurang lebih sama seperti perkataan al-Hafizh al-Mizzi dan ulama lainnya yang memuji Ibnu Taimiyah, ‘belum pernah terlihat orang yang sebanding dengan Ibnu Taimiyah selama sekitar lima ratus tahun." (sumber: catatan kaki dari pentahqiq kitab al-Uqud ad-Duriyyah, Syaikh Dr. 'Ali bin Muhammad). ↩︎