Setelah Shalat Imam Menghadap ke Jamaah

Imam Menghadap Ke Kanan Saf

Dalam Sahih Muslim, no. 709. Sahabat al-Barra berkata, “Bila mana kami shalat di belakang Rasululloh, kami lebih suka berada di sebelah kanan beliau, tempat beliau menghadapkan wajahnya ke kami (jamaah saf bagian kanan).”

Sebagian ulama5 menjadikan hadist ini sebagai dalil bahwa setelah shalat, Imam memposisikan bagian kiri tubuhnya mengarah ke kiblat, sedangkan bagian kanan nya mengarah ke jamaah shalat.

al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544 H) menjelaskan6 bahwa hadist ini memang bisa dipahami dengan dua kemungkinan. Pertama, seperti yang di pahami sebagian ulama di atas. Kedua, bahwa yang dimaksud adalah saat Nabi ﷺ menengok ke arah kanan ketika salam7. Kemungkinan kedua ini lebih kuat menurut al-Qadhi, karna kebiasaan Nabi ﷺ menunjukkan bahwa beliau biasa menghadap kepada seluruh jamaah, sebagaimana hal ini diriwayatkan dari sahabat SAmurah8, Anas9, dan lainnya10.

Cara Memutar Posisi Tubuh

Ibnu Qudamah (w. 620 H) berkata11, “Imam bebas berbalik setelah shalat ke arah mana saja, ke arah kanan maupun kiri. Berdasarkan ucapan sahabat Ibnu Mas’ud, ‘Jangan sampai salah seorang di antara kalian memberikan bagian kepada setan dari shalatnya12. Ia mengira bahwa dirinya harus berbalik hanya ke arah kanan. Sungguh aku sering melihat Rasululloh berbalik ke arah kiri.” HR. Muslilm13.”

“Tabi’in Qabishah bin Hulb meriwayatkan dari ayahnya, sahabat Yazid bin Qunafah14, ‘Ia pernah shalat bersama Nabi . Setelah shalat, Beliau berbalik ke kedua sisinya15‘ Hadist ini di keluarkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah16.”

Halaman: 1 2 3

  1. Pendapat sebagian ulama madzhab Hanafiyah, dan pendapat kedua madzhab Syafiiyah yang dianggap kuat oleh Imam Nawawi. Lihat: Imam Ibnu Nujaim al-Hanafi (w. 970 H), al-Bahru ar-Ra’iq, jilid 1, hal. 355; Imam Nawawi, al-Majmu’, jilid 3, hal. 490. ↩︎
  2. Lihat: al-Qadhi ‘Iyadh, Ikmal al-Mu’allim, jilid 3, hal. 42. Selain al-Qadhi, Imam Qurthubi (w. 656 H) juga memberikan penjelasan yang sama di dalam kitabnya al-Mufhim lima Asykala min Talkhis Kitab Muslim, jilid 2, hal. 349. ↩︎
  3. Hal ini juga diperkuat dari riwayat lain dari sahabat al-Barra’, tapi ada tambahan penjelas. Sahabat al-Barra’ berkata, “Kami senang shalat di sebelah kanan saf, karena beliau memulai salam dari arah kanannya.” Hadist ini dikeluarkan oleh al-hafizh Ibnu Khuzaimah dalam Sahihnya, no. 1564. Sanad hadist ini dinilai sahih oleh Dr. al-A’dzhami dalam ta’liq dan takhrij beliau untuk Sahih Ibnu Khuzaimah.

    Selain Ibnu Khuzaimah, riwayat serupa juga disebutkan oleh al-Hafizh Abdurrazak (w. 211 H) dalam Mushannafnya, no. 2478, dan dua riwayat dari al-Hafizh al-Isma’ili (w. 371 H) yang disebutkan oleh al-hafizh Ibnu Rajab dalam kitabnya Fathul Bari, jilid 7, hal. 445. ↩︎
  4. Udah lewat, di awal. ↩︎
  5. Dalam Shahih Bukhari, no. 847 dan 661. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada suatu malam, Rasululloh ﷺ mengakhirkan shalat isya hingga pertengan malam. Kemudian beliau keluar menemui kami untuk shalat, Setelah selesai shalat, beliau ﷺ menghadap kami.” (Lihat: al-Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, jilid 2, hal. 334). ↩︎
  6. Dari sahabat Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhu. Beliau bercerita, “Kami pernah shalat subuh bersama Rasululloh di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam nya. Selepas shalat, Nabi ﷺ berbalik menghadap ke arah kami.” (Lihat: Sahih Bukhari, no. 846; Ibnu Hajar, Fathul Bari, jilid 2, hal. 333-334). ↩︎
  7. Ibnu QUdamah, al-Mughni, jilid 1, hal. 402 ↩︎
  8. Maksudnya, ia mengharuskan dirinya untuk tidak berbalik kecuali hanya ke arah kanan karena menganggapnya sebagai sunnah, padahal hal itu bisa membuatnya menjadi sesuatu yang bid’ah, dan bid’ah adalah perkara yang diinginkan oleh syaitan. Lihat: al-‘Allamah ash-Shan’ani (w. 1182 H), at-Tahbir liidhah Ma’ani at-Taisir, jilid 6, hal. 158). ↩︎
  9. Shahih Muslim, no. 707. ↩︎
  10. Hulb atau Halib adalah julukan beliau. Bapak dari tabi’in Qabishah at-Tha’i. Lihat: al-Hafizh Ibnul Atsir (w. 606 H), Jami’ al-Ushul, jilid 12, hal. 794). ↩︎
  11. Maksudnya, beliau berbalik kadang ke kanan dan terkadang ke kiri. Lihat: al-Hafizh al-‘Aini (w. 855 H), Syarh Sunan ABi Dawud, jilid 4, hal. 349). ↩︎
  12. Sunan Abi Dawud, no. 1041. Hadist ini dianggap sahih oleh Syaikh ALbani dalam kitabny Sahih SUnan Abi Dawud, no. 956. ↩︎
BACA JUGA  هَلْ يُشْتَرَطُ الْمُحَافَظَةُ عَلَى الرَّوَاتِبِ كُلَّ يَوْمٍ كَيْ يُبْنَى لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ، أَمْ يَكْفِي يَوْمٌ واحد؟