Fikih Qunut Witir


Do’a lainnya, dari tabi’in Abza al-Khuza’i beliau berkata, “Aku pernah salat dibelakang Khalifa Umar bin Khattab saat salat Subuh, aku pun mendengar beliau membaca doa qunut sebelum ruku tepat setelah menyelasikan bacaan surat:

اَللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكَافِرِينَ مُلْحِقٌ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ، وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْضَعُ لَكَ، وَنَخْلَعُ مَنْ يَكْفُرُكَ

Atsar ini dikeluarkan oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra no. 3187 dengan sanad yang shahih. Walaupun doa ini dibaca oleh Umar saat qunut nazilah, namun dapat juga dibaca saat qunut witir. Beberapa ulama, seperti al-Hafizh al-Maqdisi27 (w. 643 H) dan lainnya, memasukkan atsar ini pada bab Doa Qunut Witir28.

3. Qunut Ubai bin Ka’ab 

Dahulu ketika Ubai bin Ka’ab diperintah oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk memimpin Shalat tarawih, Ubai bin Ka’ab ketika qunut witir berdo’a:

اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَلَا يُؤْمِنُونَ بِوَعْدِكَ، وَخَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَأَلْقِ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ، وَأَلْقِ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ، إِلَهَ الْحَقِّ

Setelah itu beliau shalawat kepada Nabi ﷺ, kemudian mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan untuk kaum muslimin. Beliau lalu menutupnya dengan pujian (tsana’): 

اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، وَنَرْجُو رَحْمَتَكَ رَبَّنَا، وَنَخَافُ عَذَابَكَ الْجِدَّ، إِنَّ عَذَابَكَ لِمَنْ عَادَيْتَ مُلْحِقٌ

Atsar tersebut dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Sahih Ibnu Khuzaimah no. 1100, Syaikh Albani: Sanad atsar ini sahih. 

4. Qunut Ibnu Abbas

Tabi’in Abdullah bin Ubaid menceritakan bahwa sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengucapkan lafaz pujian berikut saat melakukan qunut witir:

لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَمِلْءَ الْأَرَضِينَ السَّبْعِ، وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ. أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، كُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ. لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Bagi-Mu segala puji, yang kadar dan keagungannya memenuhi ketujuh
langit, memenuhi ketujuh bumi, memenuhi ruang di antara keduanya, bahkan
memenuhi segala sesuatu sesuatu selain itu
.

Wahai Tuhan Pemilik segala pujian dan keagungan, Engkaulah yang paling
berhak disanjung karena kesempurnaan sifat-Mu dan banyaknya nikmat-Mu.
Inilah kalimat paling benar yang diucapkan oleh seorang hamba, dan kami semua adalah hamba-Mu
. Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau tahan. Dan kekayaan atau kedudukan setinggi apa pun tidak akan berguna bagi pemiliknya di hadapan-Mu.” (Sumber: Syaikh ar-Rajihi, Fatawa Munawwa’ah, jilid 11, hal. 7).

Atsar ini dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [no. 31688] dengan sanad yang shahih.

Halaman: 1891011

  1. Nama beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahid bin Ahmad as-Sa’di al-Maqdisi. Lahir di Gunung Qosioun, Damaskus tahun 569 H, dan juga wafat disana. Seorang Syaikh, Imam, al-Hafizh al-Kabir, al-Qudwah, al-Muhaqqiq, al-Mujawwid, al-Hujjah, Baqiyyat Salaf, Dhiya’uddin, penulis yang memiliki banyak karya tulis, dan pemilik riwayat rihlah ilmiah yang sangat luas, mulai dari Damaskus Suriah, Mesir, Baghdad Irak, Asfahan Iran, Naisabur Iran. Herat Afghanistan, Marw Turkmenistan, Halab Suriah, Harran Turki, Hamadzan Iran, Makkah, dan tempat lainnya. Keponakan Ibnu Qudamah dari jalur ibu sekaligus murid beliau, serta berguru kepada Ibnul Jauzi, al-Hafizh Abdul Ghani, dan ulama-ulama lainnya (Sumber: adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 23, hal. 127-129 dan jilid 9, hal. 332; Burhanuddin Ibnu Muflih, al-Maqsad al-Arsyad, jilid 2, hal. 450). ↩︎
  2. Sumber: adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 3, hal. 201; Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Isabah fi Tamyiz as-Sahabat, jilid 1, hal. 175; Syaikh Albani, Irwa al-Ghalil, jilid 2, hal. 170-171; al-Hafizh al-Maqdisi, as-Sunan wal Ahkam, no. 2001; Syaikh at-Tuwaijiri, Mausu’ah al-Fiqh al-Islami, jilid 2, hal. 638; Imam ar-Rafi’i, asy-Syarhul Kabir, jilid 4, hal. 250; as-Shaq’abi, Mudzakkirah, jilid 2, hal. 69 ↩︎