Halaman ini menyajikan profil ringkas para ulama yang namanya tercantum dalam pembahasan di website ini, termasuk biografi ulama dari kitab-kitabnya yang menjadi rujukan setiap penjelasan di dalam website ini. Dan akan terus diperbarui secara berkala seiring dengan bertambahnya referensi dan nama ulama baru yang tercantum.
Daftar Isi
- Ibnu Qudamah (w. 620 H):
- Ibnu Faris (w. 395 H):
- Ibnu al-Atsir (w. 606 H):
- At-Tirmidzi (w. 279 H):
- Al-Baghawi (w. 516 H):
- Ibnu Taimiyah (w. 728 H):
- Al-Mundziri (w. 656 H):
- Abu Tsaur (w. 240 H):
- Badruddin al-Aini (w. 855 H):
- Ibnu Rusyd Al-Hafid (w. 595 H):
- al-'Adawi (w. 1189 H):
- Al-Bahuti (w. 1051 H):
- Sa'id bin Manshur (w. 227 H):
- Ibnu Mulaqqin (w. 804 H):
- Ibnul Mundzir (w. 319 H):
- Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H):
- al-Amidi (w. 631 H).
- Al-Khallal (w. 311 H)
- Ibnu Aqil (w. 513 H):
- Ishaq bin Rahuyah (w. 238 H):
- at-Thahawi (w. 321 H)
- al-Qadhi 'Iyadh (w. 544 H)
- at-Thiibi (w. 743 H)
- al-Wahidi (w. 468 H)
- Mulla 'Ali al-Qari (w. 1014 H)
- Ibnu Roslan (w. 844 H)
- Ibnu 'Alan (w. 1057 H)
Seluruh rujukan kitab yang tercantum dalam website ini sebagian besar diakses melalui Maktabah Syamilah. Bagi yang ingin melakukan verifikasi atau merujuk langsung pada naskah asli, silakan mengeklik judul kitab berwarna biru pada nama-nama kitab yang tercantum di referensinya.
Ibnu Qudamah (w. 620 H):
Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu Qudamah, merupakan seorang Syaikh, Imam, teladan, al-‘Allamah, Mujtahid, dan Syaikhul Islam, Beliau adalah penulis kitab al-Mughni. Beliau lahir di Jamail, wilayah Nablus, pada bulan Sya’ban tahun 541 H rahimahullah. Diantara guru beliau, Al-Hafizh Abdul Ghani (pemilik Umdatul Ahkam).(Sumber: Siyar A’lam Nubala milik Imam Adz-Dzahabi, penerbit: Muassasah Ar-Risalah 22\166)
ٍSejauh ini di antara karya tulisnya yang dipakai sebagai rujukan dalam website ini: Al-Mughni.
Ibnu Faris (w. 395 H):
Yang memiliki nama lengkap Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya bin Muhammad bin Habib al-Qazwini, yang lebih dikenal dengan sebutan ar-Razi, al-Maliki. Seorang Imam, ulama besar, pakar bahasa, dan ahli hadis. Beliau menetap di Hamadzan dan merupakan penulis kitab al-Mujmal. Beliau memiliki banyak karya tulis serta risalah, dan banyak imam besar yang muncul dari didikan beliau rahimahullah. (Sumber: Siyar A’lam Nubala 17\103)
Di antara karya tulisnya yang dipakai sebagai rujukan dalam website ini: Mu’jam Maqayis al-Lughah.
Ibnu al-Atsir (w. 606 H):
Beliau adalah seorang Hakim, pemimpin, ulama besar yang sangat mahir, sosok yang tiada bandingnya, dan sastrawan yang fasih. Nama lengkapnya adalah Majduddin Abu as-Sa’adat al-Mubarak bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdul Wahid asy-Syaibani al-Jazari, kemudian menetap di Mushil rahimahullah.(Sumber: Siyar A’lam Nubala 21\489)
Di antara karya tulisnya yang dipakai sebagai rujukan dalam website ini: An-Nihayah fi Gharib Al-Hadist wal Atsar.
At-Tirmidzi (w. 279 H):
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak, ada pula yang menyebutkan: Muhammad bin Isa bin Yazid bin Saurah bin as-Sakan, seorang Al-Hafizh, tokoh terkemuka, Imam, dan pakar yang sangat mahir dalam ilmu hadist. Penulis kitab al-Jami’ (Sunan at-Tirmidzi), kitab al-’Ilal, serta karya-karya lainnya rahimahullah.
Beliau rahimahullah pernah berguru kepada para ulama diantaranya, Imam Qutaibah bin Sa’id, Imam Ishaq bin Rahuyah dan Imam Bukhari (pemilik Sahih Bukhari). Sumber: Siyar A’lam Nubala 13\271 dan Qut Al-Mughtadzi karya Al-Hafizh As-Suyuthi 1\9.
ٍSejauh ini di antara karya tulisnya yang dipakai sebagai rujukan dalam website ini: Sunan At-Tirmidzi.
Al-Baghawi (w. 516 H):
Beliau adalah Syaikh, Imam,Al-‘Allamah, teladan, Al-Hafizh, Syaikhul Islam, penghidup sunnah, Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad al-Farra’ al-Baghawi asy-Syafi’i. Beliau adalah seorang ahli tafsir dan penulis berbagai karya monumental, seperti: Syarhus Sunnah, Ma’alimut Tanzil (Tafsir al-Baghawi), Al-Mashabih, kitab At-Tahdzib dalam mazhab (Syafi’i), Al-Jam’u bainash Shahihain, Al-Arba’in Haditsan, dan karya lainnya rahimahullah. Sumber: Siyar A’lam Nubala (19\439).
Ibnu Taimiyah (w. 728 H):
Taqiyuddin Al-Imam Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin Abul Qasim al-Khidhr bin Muhammad bin al-Khidhr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyah. Beliau adalah seorang Imam, Al-Hafizh, Ahli Tafsir, Al-Faqih, Mujtahid, Al-Habr Al-Bahr, Al-‘Alam Al-Fard, Syaikhul Islam, sosok langka pada zamannya dan menguasai berbagai disiplin ilmu. Taqiyuddin Abu al-Abbas Ahmad, berasal dari Harran, bermazhab Hanbali, dan menetap di Damaskus.
Beliau merupakan salah satu lautan ilmu, termasuk dalam jajaran orang-orang yang paling cerdas, sosok zuhud yang tiada bandingnya, ksatria yang tangguh, serta orang yang sangat dermawan. Beliau dipuji baik dari pihak kawan maupun lawan. Karya-karyanya tersebar luas ke berbagai penjuru dunia, yang jumlahnya diperkirakan mencapai tiga ratus jilid.
Diantara murid beliau, Al-Hafizh Al-Mizzi (pemilik Tahdzib Kamal), Imam Adz-Dzahabi (pemilik Siyar A’lam Nubala) Ibnu Qayyim, Ibnu Muflih (pemilik Al-Furu’), Ibnu Katsir dan masih banyak lagi rahimahumullah. Sumber: Tadzkirat Al-Huffazh (4\1496-1498) milik Imam Adz-Dzahabi dll.
Al-Mundziri (w. 656 H):
Al-Imam, Al-Allamah, Al-Hafizh, Al-Muhaqqiq, Syaikhul Islam, Zakiuddin Abu Muhammad Abdul Azhim bin Abdul Qawi bin Abdullah bin Salamah bin Sa’ad Al-Mundziri.
Beliau memiliki banyak guru, salah satunya adalah Muwaffaquddin Ibnu Qudamah (pemilik al-Mughni). Dan juga memiliki banyak murid, diantaranya adalah Qadhi Qudhat Ibnu Daqiq Al-‘ied, Imam Ibnu Asakir Ad-Dimasyqi, Sulthan al-Ulama’ ‘Izuddin bin Abdussalam dan masih banyak lagi.
Diantara karya tulisnya adalah Targhib wa Tarhib dan Mukhtashar Sahih Muslim. Sumber: Siyar A’lam Nubala (23\319) dan Thabaqat Syafiiyah al-Kubra (8\261) milik Al-Hafizh As-Subki.
Abu Tsaur (w. 240 H):
Ibrahim bin Khalid, seorang Imam, al-Hafizh, al-Hujjah, dan Mujtahid. Beliau merupakan mufti Irak dan ahli fikih dari suku Al-Kalbi yang menetap di Baghdad. Beliau juga memiliki julukan (kunyah) Abu Abdullah.
Diantara guru-guru beliau rahimahullah, Sufyan bin Uyainah, Waki’ bin al-Jarrah, Ibnu Aliyyah, Imam Syafi’i dan masih banyak lagi.
Diantara murid beliau, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lainnya. (sumber: Siyar A’lam Nubala 12\72-72)
Badruddin al-Aini (w. 855 H):
Beliau adalah seorang Imam, al-Allamah al-Kabir, serta Hafizh yang mumpuni tanpa tandingan. Ia merupakan guru besar bagi para penghafal hadis di masanya, yang keunggulannya telah diakui sepanjang zaman.
Sosoknya dikenal sebagai ahli fikih yang kritis, wara’, dan dianugerahi usia yang panjang. Ia adalah ulama besar negeri Mesir sekaligus sejarawan terbesarnya, pemegang jabatan Qadhi al-Qudhat, dan digelari Syaikhul Islam. Nama lengkapnya adalah Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa bin Ahmad bin Al-Husain bin Yusuf bin Mahmud. Ia berasal dari Al-Hilli, dilahirkan dan dibesarkan di Aintab (Turki), kemudian menetap dan wafat di Kairo.
Dikenal dengan sebutan Al-Badr al-‘Aini, beliau adalah imam pada zamannya dalam ilmu-ilmu manqul (riwayat) maupun ma’qul (rasional), serta tiada tandingannya dalam ilmu furu’ (cabang hukum) maupun ushul (dasar hukum). Di antara para ulama besar yang diberikan taufik untuk produktif menulis, beliau menonjol karena keluasan ilmunya, ketajaman analisisnya, serta keindahan penyusunan kalimatnya. Karya-karya besarnya dalam bidang hadis, fikih, sejarah, bahasa Arab, dan disiplin ilmu lainnya telah memenuhi perpustakaan ilmu di seluruh dunia dan terus dikutip oleh para ulama dari masa ke masa.
Badruddin al-‘Aini memiliki keterikatan ilmiah dengan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, karena keduanya menimba ilmu dari guru-guru yang sama. Ibnu Hajar sendiri mengakui hal ini dalam pernyataannya, “Beliau telah menimba ilmu dari sebagian guru-guru kami, seperti Syekh Zainuddin al-Iraqi dan Syekh Taqiuddin ad-Dajwi.” (Sumber: Muqaddimah Umdatul Qari Syarh Sahih al-Bukhari dan al-Majma’ al-Muassis)
Ibnu Rusyd Al-Hafid (w. 595 H):
Beliau adalah seorang ulama besar dan filsuf pada zamannya. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Walid Muhammad bin Abi Al-Qasim Ahmad, putra dari tokoh besar mazhab Maliki, Abu Al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd al-Qurthubi.
Ibnu Rusyd menimba ilmu dari Abu Marwan bin Masarrah serta sejumlah ulama lainnya hingga beliau sangat mumpuni dalam bidang fikih. Beliau juga mempelajari ilmu kedokteran dari Abu Marwan bin Hizbul. Setelah itu, beliau menekuni ulumul awail hingga namanya menjadi rujukan utama dalam disiplin tersebut.
Al-Abbar berkata, “Tidak ada yang tumbuh di Andalusia sosok yang menyamai kesempurnaan, keluasan ilmu, dan kemuliaannya.” Meskipun begitu, beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat tawaduk dan rendah hati. Konon, sejak beliau mencapai usia dewasa, beliau tidak pernah berhenti belajar dan menulis kecuali pada dua malam saja: malam wafat ayahnya dan malam pernikahannya.
Sepanjang hidupnya, beliau telah menulis dan membukukan sekitar sepuluh ribu lembar karya ilmiah. Beliau sangat mendalami filsafat dan mencapai tingkat tinggi di dalamnya. Masyarakat menjadikannya rujukan fatwa dalam dunia kedokteran, sebagaimana mereka menjadikannya rujukan dalam urusan fikih. Di samping itu, beliau juga sangat mahir dalam bahasa Arab; bahkan dikisahkan bahwa beliau menghafal seluruh diwan Abu Tammam dan Al-Mutanabbi. (Sumber: Siyar A’lam Nubala)
al-‘Adawi (w. 1189 H):
Nama lengkap beliau Ali bin Ahmad bin Mukramullah al-Mansafisi al-Adawi al-Maliki al-Azhari, yang masyhur dengan sebutan As-Sha’idi. Seorang Imam yang pemberani, guru dari guru-guru besar Islam, dan simbol bagi ulama-ulama terkemuka. Pemimpin para muhaqqiqin dan sandaran bagi mudaqqiqin. Dan memiliki berbagai karya tulis yang banyak.
Diantara karya tulisnya, Hasyiyah al-Adawi ala Kifayatut Thalib ar-Rabbani (Sumber: Syajarah an-Nur az-Zakiyyah fi thabaqat al-Malikiyyah)
Al-Bahuti (w. 1051 H):
Beliau adalah Manshur bin Yunus bin Shalahuddin bin Hasan bin Ahmad bin Ali bin Idris. Sosok Syaikh dan Imam, guru dari guru-guru besar Islam, masyhur dengan sebutan Al-Bahuti al-Mishri.
Seorang Imam yang pemberani serta ulama yang memiliki pengetahuan luas dalam berbagai disiplin ilmu. Beliau adalah Ahli Fikih yang memiliki wawasan sangat luas (mutabahhir), pakar ushul fikih, serta ahli tafsir. Ibarat gunung di antara gunung-gunung ilmu, pilar kokoh di antara pilar-pilar hikmah, dan samudera dari sekian banyak lautan keutamaan. Beliau juga memiliki andil yang sangat besar dalam bidang fikih, ilmu waris, dan disiplin ilmu lainnya. (Sumber: an-Na’tu al-Akmal li Ashab Imam Ahmad)
Sa’id bin Manshur (w. 227 H):
Ibnu Syu’bah, seorang Hafizh, Imam, dan Syaikh Haram dengan kunyah Abu Utsman al-Khurasani al-Marwazi at-Thaliqani, kemudian al-Balkhi, hingga akhirnya menetap di Makkah. Penulis kitab hadis as-Sunan.
Di antara guru-guru beliau yang paling berpengaruh adalah tokoh-tokoh besar seperti Imam Malik bin Anas, Imam al-Laits bin Sa’ad, Fudhail bin Iyadh, Sufyan bin Uyainah, dan masih banyak lagi.
Nama-nama besar ulama hadist seperti Imam AHmad bin Hanbal, Imam Muslim, Abu Dawud, ad-Darimi, Abu zur’ah, Abu Hatim serta masih banyak lagi, pernah menimba ilmu kepada Sa’id bin Manshur rahimahullah. (Sumber: Siyar A’lam Nubala)
Ibnu Mulaqqin (w. 804 H):
Seorang Imam, Faqih, sekaligus Hafizh, dan menjadi rujukan utama bagi para penulis kitab. Nama lengkapnya adalah Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali al-Anshari. Beliau memiliki deretan nisbah yang menunjukkan jejak perjalanannya, mulai dari al-Wadi Asyi, al-Andalusi, at-Takruri, hingga al-Mishri (Mesir). Di kalangan mazhab, beliau dikenal sebagai ulama Syafi’i. Beliau masyhur dengan sebutan Ibnu al-Mulaqqin, dan di wilayah Yaman beliau lebih dikenal dengan julukan Ibnu an-Nahwi.
Dalam menimba ilmu, beliau berguru kepada ulama-ulama besar seperti Taqiyuddin as-Subki, Jamaluddin al-Isnawi, Kamaluddin an-Nasya’i, Izzuddin bin Jama’ah dan lainnya rahimahumullah. Sepanjang hidupnya, beliau telah menyusun sekitar 300 karya tulis.
Diantara murid beliau rahimahullah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, Majduddin Fairuz Abadi (pemilih Qamus al-Muhith) dan lainnya.
Diantara karya tulisnya, at-Taudhih Syarh Jami’ Sahih, al-I’lam Bifawaid al-Ahkam, al-Badru al-Munir, dan masih banyak lagi. (Sumber: Bidayatul Muhtaj Syarh Minhaj karya al-Qadhi Ibnu Qadhi Syuhbah [w. 851 H])
Ibnul Mundzir (w. 319 H):
Nama lengkap beliau adalah Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim an-Naisaburi. Beliau menetap di Makkah dan meninggal di sana.
Seorang Imam, Mujtahid, al-Hafizh, al-‘Allamah, Syaikhul Islam, dan salah satu tokoh besar Ulama’ Islam. Beliau berada pada puncak tertinggi dalam penguasaan hadis dan perbedaan pendapat para ulama. Telah mencapai derajat Mujtahid Mutlak dan menyusun berbagai kitab tentang perbedaan pendapat ulama yang kualitasnya belum pernah tertandingi oleh siapa pun.
Diantara karya tulisnya, al-Awsath fi as-Sunan wal Ijma’ wal Ikhtilaf, al-Ijma’, al-Isyraf ‘ala Madzahib al-Ulama, dan masih banyak lagi.
Sumber: al-Hafizh adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 14, hal. 492; al-Hafizh as-Subki, Thabaqat Syafiiyah al-Kubra, jilid 3, hal. 102; Imam asy-Syiirazi, Thabaqat al-Fuqaha, hal. 108; Imam Ibnul Atsir, Jami’ al-Ushul, jilid 2, hal. 295; Imam az-Zabidi, Taj al-‘Urus min Jawahir al-Qamus, jilid 33, hal. 132.
Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H):
Beliau adalah Al-Imam, Al-’Allamah, ِAl-Qadhi, Syaikh Hanabilah, Abu Ya’la Muhammad bin Al-Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmad al-Baghdadi. Beliau aktif berfatwa dan mengajar hingga banyak melahirkan ulama besar. Kepemimpinan dalam bidang fikih berakhir pada sosok beliau, dan beliau adalah ulama Irak yang paling menonjol di zamannya. Selain itu, beliau memiliki penguasaan mendalam dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an, tafsir, ilmu logika, serta ushul fikih
Diantara guru-guru beliau adalah al-Imam Abul Hasan al-Harabi, Syaikh Ibnu Hababah, dan sejumlah ulama lainnya. Diantara murid beliau adalah al-Khatib al-Bagdadi, Imam Abul Khattab al-Kaludzani, al-Imam Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil, al-Hafizh al-Bardani, SYaikhul Islam Abul Faraj al-Anshari, dan masih banyak lagi rahimahullah (Sumber: adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 18, hal. 89-90).
al-Amidi (w. 631 H).
Beliau adalah seorang ahli ushul fikih dan ahli kalam, serta termasuk salah satu orang paling cerdas di dunia. Ibnu Taimiyyah berkata tentangnya, “Tidak ada seorang pun di zamannya yang lebih mendalam penguasaannya dalam ilmu kalam dan filsafat selain dirinya. Beliau adalah salah satu yang terbaik keislamannya dan paling lurus akidahnya di antara mereka.” (Thabaqat karya Al-Hafizh As-Subki 8\306 dll) ↩︎
Al-Khallal (w. 311 H)
Beliau adalah Al-Imam, Al-’Allamah, Al-Hafizh, Al-Faqih, Syaikh para ulama mazhab Hambali dan pakar mereka, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun bin Yazid al-Baghdadi al-Khallal. Salah satu riwayat beliau dari gurunya Imam Al-Marwadzi dari Imam Ahmad dari Sufyan bin Uyainah yang berkata, “Kekhawatiranmu yang berlebihan terhadap rezeki esok hari dicatat sebagai sebuah dosa”. (Siyar A’lam Nubala 14/297)
Ibnu Aqil (w. 513 H):
Beliau adalah Al-Imam, Al-’Allamah Al-Bahr (samudra ilmu), Syaikh Hanabilah, Abu al-Wafa’ Ali bin Aqil bin Muhammad al-Baghdadi azh-Zhafaril.
Salah satu murid utama dari Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H). Beliau dikenal dengan kecerdasan yang luar biasa, luasnya wawasan, serta kedalaman ilmu yang tidak tertandingi di zamannya. Karya monumentalnya yang sangat masyhur adalah kitab Al-Funun yang mencapai lebih dari 400 jilid. Di dalamnya, beliau menghimpun segala diskusi ilmiahnya dengan para ulama dan murid, berbagai pemikiran yang mendalam dan rumit, hingga peristiwa-peristiwa unik yang beliau saksikan. (Siyar A’lam Nubala 19\443)
Ishaq bin Rahuyah (w. 238 H):
Beliau adalah Al-Imam Al-Kabir (Imam Besar), Syaikhul Masyriq (Guru Besar wilayah Timur), Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad al-Hanzhali al-Marwazi, yang menetap di Naisabur. Beliau merupakan pemuka para pakar hadis (Sayyidul Huffazh). Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i berguru dan meriwayatkan hadist dari beliau.
Salah satu imam kaum muslimin dan ulama besar agama yang menghimpun keahlian dalam bidang hadis dan fikih, kekuatan hafalan dan kejujuran, serta sifat wara’ dan zuhud. Beliau juga merupakan pemilik madzhab mandiri di antara madzhab-madzhab yang telah punah (al-madzahib al-mundatsirah). Rahimahumullah (ٍSumber: al-Hafizh adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 11, hal. 358-359; dan lainnya).
at-Thahawi (w. 321 H)
Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad al-Azdi al-Hanafi, kunyahnya Abu Ja’far at-Thahawi. Seorang Imam, al-Allamah, al-Hafizh al-Kabir, serta al-Faqih. Beliau dari penduduk desa Taha bagain dari wilayah Mesir, dan dilahirkan pada tahun 221 H.
Awalnya beliau bermazhab Syafi’i dan menuntut ilmu ke pamannya, Imam al-Muzani, karna satu masalah at-Thahawi meninggalkannya dan berpindah ke al-Hafizh Ahmad bin Abi Imran, salah satu Imam Mazhab Hanafi.
Diantara muridnya adalah al-Hafizh at-Thabrani, Ahli Hadist terkenal dan penulis Mu’jam al-Wasith.
Diantara karya tulisnya yang terkenal adalah Matan Aqidah at-Thahawiyah yang kemudian banyak disyarah, diberikan ta’liq, dan diajarkan hingga saat ini di berbagai pondok dan majelis-majelis ilmu. Rahimahullah (Sumber: Imam asy-Syirazi, Thabaqat al-Fuqaha, hal. 142; al-Hafizh adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 15, hal. 27-28).
al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544 H)
Nama lengkap beliau adalah ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh al-Andalusi as-Sibta al-Maliki, dengan kunyah Abul Fadhl. Beliau Lahir di Sebta (latin: Ceuta), Spanyol pada bulan Sya’ban tahun 476 H. Beliau wafat pada malam Jum’at tengah malam, tanggal sembilan bulan Jumadal Akhir, dan dimakamkan di Marrakesh, Maroko rahimahullah. Seorang Imam, al-‘Allamah, al-Hafizh, Syaikhul Islam.
Diantara guru beliau adalah al-Imam Ibnu Rusyd al-Jidd, al-Qadhi Abu ‘Ali as-Shadafi, Imam Abu Bahr bin al-‘Ash (murid dari al-Hafizh Ibnu Abdil Barr), dan sejumlah ulama lainnya.
(Sumber: al-Qadhi Ibnu Farhun, ad-Diibaj al-Mudzahhab, jilid 2, hal. 51; Muarrikh Makhluf, Syajarah an-Nur, jilid 1, hal, 205;
at-Thiibi (w. 743 H)
al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Al-Husain bin Muhammad bin Abdullah at-Thiibi; seorang imam yang masyhur, penulis Syarh Al-Misykah dan karya-karya lainnya.
Aku membaca biografi tentang beliau dalam karya sebagian ulama:
Beliau dahulu adalah seorang yang memiliki kekayaan yang besar, berasal dari warisan dan perniagaan. Namun beliau senantiasa menginfakkan hartanya di berbagai jalan kebaikan, hingga di penghujung usianya beliau menjadi seorang yang fakir.
Disebutkan pula bahwa beliau adalah seorang yang dermawan, rendah hati, lurus akidahnya, sangat keras dalam membantah orang-orang filsafat dan ahli bid’ah, serta terang-terangan membongkar kesesatan dan kejelekan mereka, meskipun pada saat itu mereka tengah mendominasi dan berkuasa di negeri-negeri kaum muslimin.
Beliau sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ, memiliki rasa malu yang tinggi, senantiasa menghadiri shalat berjama’ah siang dan malam, di musim dingin maupun musim panas, meskipun penglihatannya telah melemah di masa tuanya.
Beliau senantiasa mendampingi para pelajar dalam menuntut ilmu-ilmu Islam tanpa pamrih, bahkan beliau membiayai mereka, membantu keperluan mereka, dan meminjamkan kitab-kitab berharga kepada penduduk kotanya maupun penduduk kota-kota lain, baik kepada yang beliau kenal maupun yang tidak beliau kenal.
…Pada hari wafatnya, beliau baru saja menyelesaikan tugas mengajar tafsir, lalu berangkat menuju majelis hadis. Beliau kemudian memasuki sebuah masjid di dekat rumahnya dan melaksanakan salat sunah secara duduk. Saat sedang duduk menunggu iqamah untuk salat fardhu, beliau mengembuskan napas terakhir dalam keadaan menghadap kiblat. Peristiwa itu terjadi pada hari Selasa, tanggal 23 Sya’ban tahun 743 H.” Rahimahullah (Sumber: al-Hafizh Ibnu Hajar, ad-Durar al-Kaminah di A’yan al-Mi’ah ats-Tsaminah, jilid 2, hal. 185-186).
al-Wahidi (w. 468 H)
‘Ali bin Ahmad bin Muhammad al-Wahidi an-Naisaburi. Beliau lahir di Naisabur, Iran dan juga wafat disana, tapi secara asal-usul, keluarga beliau keturunan dari daerah Sawah (antara Ray dan Hamadzan), Iran.
Seorang imam besar, al-ustadz, al-‘allamah, mufassir. Beliau juga guru besar pada bidang Nahwu dan Tafsir pada masanya.
Mengambil ilmu kepada Imam Abu Ishaq ats-Tsa’labi, Imam Abu Thahir az-Ziyadi. Rahimahullah.
(Sumber: al-Hafizh adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala, jilid 18, hal. 339-340; Muarrikh Hujjah Ibnu Khalliqan, Wafayat al-A’yan, jilid 3, hal. 303; Tajuddin as-Subki, Thabaqat as-Syaf’iyyah al-Kubra, jilid 5, hal. 240; az-Zirikli, al-A’lam, jilid 4, hal. 255).
Mulla ‘Ali al-Qari (w. 1014 H)
Syaikh Mulla ‘Ali Qari bin Sulthan bin Muhammad al-Harawi al-Hanafi lahir di Herat, Afghanistan, lalu pindah ke Makkah dan menetap di sana. Belia mengambil ilmu dari sejumlah ulama muhaqqiq, seperti Imam Ibnu Hajar al-Haytami.
Muarrikh al-Ishaami berkata (w. 1111 H), “Beliau adalah sosok yang menguasai ilmu naql (al-Qur’an dan hadist) dan ‘aql (logika), salah satu tokoh besar yang terkenal memiliki hafalan dan pemahaman yang kuat. Memiliki kebiasaan mengkritik pendapat fikih para imam madzhab, seperti Imam Syafi’i dan Imam Malik. Karna itu banyak ulama yang melarang untuk menelaah karya-karyanya.”
Menurut Imam asy-Syaukani, sikap kritis beliau adalah bukti tingginya kedudukan beliau, sejatinya seorang mujtahid menjelaskan dan menkritisi pendapat-pendapat yang menyelisihi dalil-dalil shahih, tidak peduli apakah itu pendapat dari tokoh besar maupun orang biasa. Itu hanyalah sebuah celaan yang sama sekali tidak menodai kehormatannya.
Beliau wafat di Makkah pada bulan Syawal tahun 1014 H dan dimakamkan di Ma’la, pemakaman yang berada di utara Masjidil Haram. Ketika kabar kewafatannya sampai kepada para ulama Mesir, mereka melaksanakan salat gaib untuknya di Masjid Al-Azhar dalam sebuah perkumpulan agung yang dihadiri empat ribu orang lebih.
Diantara karya tulisnya, Mirqat al-Mafaatih Syarh al-Misykah, Jam’u al-Wasa’il Syarh as-Syama’il, Syarh as-Syifa, Syarh Nukhbat al-Fikar, Syarh Musnad Abi Hanifah, dan masih banyak lagi
(Sumber: Imam Syaukani, al-Badru at-Thaali’ bi Mahasin man Ba’d al-Qarn as-Sabi’, jilid 1, hal. 445; Muarrikh al-Muhibbi, Khulasat al-Atsar fi A’yan al-Qarn al-Hadi ‘Asyar, jilid 3, hal. 185).
Ibnu Roslan (w. 844 H)
Beliau adalah Ahmad bin Husain bin Hasan ar-Ramli as-Syafi’i yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Roslan.
Seorang qari, muhaddist, mufassir, ahli nahwu, ahli bahasa, tsiqah, dan penulis.
Dilahirkan di Ramlah, Palestina pada tahun 773 H. Berguru kepada al-Qalqasyandi, Ibnu Ha’im, Syaikhul Islam al-Bulqini.
Beliau wafat di Ramlah pada hari Rabu, bulan Sya’ban tahun 844 H. Diantara karya tulisnya, Safwatu az-Zubad, Mukhtashar al-Adzkar, Syarh Sunan Abi Dawud, Ta’liqat ‘ala as-Syifa, Syarh Jam’u al-Jawami’, Syarh Minhaj al-Baidhawi, Syarh Mukhtashar Ibnu al-Hajib, dan masih banyak lagi rahimahullah (Sumber: al-Hafizh as-Sakhawi, ad-Dha’u al-Laami’ li Ahli al-Qarn at-Taasi’, jilid 1, hal. 282; Muarrikh Khalifah, Sullamul Wusul ila Thabaqat al-Fuhul, jilid 1, hal. 139)
Ibnu ‘Alan (w. 1057 H)
Beliau adalah Muhammad Ali bin Muhammad ‘Allan bin Ibrahim bin Muhammad al-Bakri, as-Siddiqi, asy-Syafi’i. Seorang pakar tafsir, ahli hadis, ahli fikih. Dilahirkan di Makkah pada 20 Safat tahun 966 H.
Pada masanya beliau menjadi rujukan dalam menghadapi berbagai persoalan rumit di segala bidang ilmu. Jika beliau ditanya tentang suatu permasalahan, beliau akan dengan cepat menyusun sebuah risalah (buku kecil) untuk menjawabnya.
Diantara guru-gurunya, Syaikh Abdur Rahim bin Hasan, Syaikh Abdul Malik al-Ishami, Syaikh Ahmad, Syaikh Muhammad bin Jarullah. Beliau juga menerima izin periwayatan Sahih Bukhari dari Imam Abdurrahman bin Khatib asy-Syarbini.
Beiau memiliki lebih dari 60 karya tulis, diantaranya Dhiya’ as-Sabil, Dalil al-Falihini li Turuq Riyadh as-Shalihin, al-Fatuhat ar-Rabbaniyah ‘alal Adzkar an-Nawawiyah.
Beliau wafat pada hari Selasa, 21 Dzulhijjah tahun 1057 H dan dimakamkan di pemakaman Ma’la, Makkah, berdekatan dengan makan Imam Ibnu Hajar al-Haytami. Rahimahullah.
(Sumber: Muarrikh al-Muhibbi, Khulasat al-Atsar fi A’yan al-Qarn al-Hadi ‘Asyar, jilid, 4, hal. 184-188; az-Zirikli, al-A’lam, jilid 6, hal. 293).