Kedua, terkait wudhu Nabi ﷺ. Para sahabat ketika menggambarkan bagaimana tata cara wudhu beliau ﷺ; bahwa Nabi ﷺ berkumur-kumur tiga kali, beristinsyaq tiga kali, membasuh wajahnya tiga kali, dan kedua lengannya tiga kali. Artinya: Beliau ﷺ membasuh setiap anggota wudu tersebut secara sendiri-sendiri masing-masing tiga kali sebelum berpindah ke anggota wudu berikutnya, dan beliau tidak membasuh seluruh rangkaian anggota wudu tersebut sekaligus satu kali, lalu mengulanginya untuk kedua dan ketiga kalinya (Sumber: al-Hafizh Ibnu Rajab, Fathul Bari, jilid 7, hal. 415)
Ada keistimewaan lain jika dzikir ini dibaca satu per satu. Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa zikir yang dibaca secara terpisah memiliki kelebihan dibanding cara digabung. Hal ini dikarenakan setiap gerakan jari atau sarana lain yang digunakan untuk menghitung zikir bernilai pahala. Dengan memisahkan setiap kalimat zikir, jumlah gerakan yang dilakukan menjadi lebih banyak, sedangkan orang yang menggabungkannya hanya mendapatkan sepertiga dari jumlah pahala gerakan tersebut (Sumber: al-Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari bi Syarh al-Bukhari, jilid 2, hal. 329).
Wallahu Ta’ala a’lam9
- Mayoritas ulama menafsirkan kata “Shalat” dalam hadist ini atau hadist lainnya yang serupa adalah shalat fardhu (Sumber: al-Hafizh Badruddin al-‘Aini, Umdah al-Qari Syarh Sahih Bukhari, jilid 6, hal. 130). ↩︎
- al-Hafizh Ibnu Mulaqqin, al-I”lam bi Fawaid Umdah al-Ahkam, jilid 4, hal. 48. ↩︎
- al-Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari bi Syarh al-Bukhari, jilid 2, hal. 329. ↩︎
- Syaikh Dr. Shalih bin Farih, Fathul Mu’in bi Tashih Hadist ‘Aqd at-Tasbih bil Yamin, hal. 229. Syaikh Bin Baz mengomentari risalah ini dalam muqaddimah risalah tersebut, “Risalah yang bagus dan bermanfaat…Saya sarankan kepada penuntun ilmu tuk membaca risalah ini dan mengambil pelajaran darinya, karna besarnya faidah yang terkandung di dalamnya meskipun ringkas.” ↩︎
- Riwayat disini maksudnya adalah pendapat yang dinukil dari Imam Ahmad oleh para murid beliau. Biasanya Imam Ahmad memiliki beberapa pendapat dalam satu masalah hukum. Dalam masalah ini, Imam Ahmad memiliki dua riwayat: yang pertama, boleh dibaca dipisah atau digabung; kedua, digabung tanpa dipisah (Dr. Khalid, at-Tamadzhub, jilid 1, hal. 476; al-Hafizh Ibnu Rajab, Fathul Bari, jilid 7, hal. 414). ↩︎
- Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safarini, Abul ‘Aun; Syamsyuddin, al-‘Allamah, al-Fahhamah, al-Musnid, al-Hafizh, dan al-Mutqin. Beliau lahir di pada tahun 1114 H di desa Safarin, salah satu desa didaerah Nablus, Palestina. Beliau telah membaca, menghafal, dan menguasai al-Qur’an sejak kecil. Kemudian beliau melakukan perjalanan ke Damaskus, Suriah untuk menimba ilmu dari para ulama disana, diantarana adalah Syaikh Abdul Qadir at-Taghlibi, Syaikh Abdul Ghani an-Nablusi, dan lainnya. Beliau adalah guru dari Murthada az-Zabidi, penyusun Kitab kamus Arab terbesar Taj al-‘Urus min Jawahir al-Qamus, yang terdiri dari 40 jilid rahimahumallah (Sumber: Muarrikh Ibnu Hamid, as-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, jilid 2, hal. 839-841, Murthada az-Zabidi, Taj al-Urus min Jawahir al-Qamus, jilid 12, hal. 47) ↩︎
- Sumber: al-Khatib al-Bagdadi, al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi, jilid 2, hal. 212. ↩︎
- al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Hadist-hadist lain Selain riwayat Abu Hurairah jalur Abu Shalih ini, dzahirnya dibaca satu per satu.” (Sumber: Ibnu Hajar, Fathul Bari, jilid 2, hal. 329). ↩︎
- Referensi lain dari matan fikih mazhab Hanabilah: al-‘Allamah Ibnu an-Najjar, Muntaha al-Iradat fi Jam’i al-Muqni’ ma’a Tanqih wa az-Ziyadat, jilid 1, hal. 222. Kitab ini menghimpun dari dua karya besar dalam fikih mazhab Hanbali, yaitu al-Muqni’ karya Ibnu Qudamah (w. 620 H) dan at-Tanqih karya Imam al-Mardawi (w. 885 H) rahimahumullah.. ↩︎
- Referensi lain dari matan fikih mazhab Hanabilah: al-‘Allamah Ibnu an-Najjar, Muntaha al-Iradat fi Jam’i al-Muqni’ ma’a Tanqih wa az-Ziyadat, jilid 1, hal. 222. Kitab ini menghimpun dari dua karya besar dalam fikih mazhab Hanbali, yaitu al-Muqni’ karya Ibnu Qudamah (w. 620 H) dan at-Tanqih karya Imam al-Mardawi (w. 885 H) rahimahumullah.. ↩︎