Zikir Tasbih, Tahmid, dan Takbir: DIbaca Satu Per Satu atau Sekaligus?

al-Hafizh Ibnu Mulaqqin berkata, “Ucapan Rasulullah ﷺ ‘Kalian Bertasbih… dan seterusnya’ merupakan dalil bagaimana tata cara pengamalan zikir ini. Tidak diragukan lagi bahwa membacanya secara digabung sekaligus atau dibaca satu per satu sama-sama boleh. Namun membacanya secara digabung lebih rajih (kuat), karena jumlah total hitungannya akan tercapai pada setiap satuan bilangan zikirnya, (alasan kedua) dan yang demikian ini juga dzahir (yang ditunjukkan secara tekstual) dari hadist ini2.” al-Hafizh Ibnu Hajar sedikit menambahkan, “(Alasan lain) Karna adanya penggunaan huruf athaf (kata sambung waw ‘dan’)3.”  Yang artinya, bahwa kata sambung ‘waw’ disini sebagai pemersatu rangkaian zikir yang bersambung dalam satu hitungan, bukan sekedar pemisah urutan.

Alasan lainnya, sebagaimana arahan dari Abu Shalih bahwa tata caranya adalah digabung, karna beliau adalah perawi hadist ini dari sahabat Abu Hurairah, tentu lebih tahu mengenai hadist yang dia riwayatkan4.

Imam Ibnu Muflih juga memilih pendapat ini berdasarkan ucapan sang perawi hadist Abu Shalih. Kemudian Ibnu muflih menyebutkan bahwa ini adalah pendapat Imam Ahmad (fi riwayat5) (Sumber: Ibnu Muflih, al-Furu’ wa Tashih al-Furu’, jilid 2, hal. 230).

al-‘Allamah as-Safaariini6 (w. 1188 H) berkata, “Yang tampak bagiku adalah zikir dengan cara menggabukannya menjadi satu sekaligus, karena riwayat-riwayat yang ada mengenai zikir ini mencakup dua kemungkinan (dipisah maupun digabung), sedangkan ucapan Abu Shalih ini justru memberikan penjelasan dari dua kemungkinan tersebut. Maka merujuk pada ucapan beliau tentunya lebih utama.” (Sumber: al-‘Allamah as-Safaarini, Kasyfu al-Litssam Syarh Umdah al-Ahkam, jilid 3, hal. 100).

Halaman: 1 2 3 4

  1. al-Hafizh Ibnu Mulaqqin, al-I”lam bi Fawaid Umdah al-Ahkam, jilid 4, hal. 48. ↩︎
  2. al-Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari bi Syarh al-Bukhari, jilid 2, hal. 329. ↩︎
  3. Syaikh Dr. Shalih bin Farih, Fathul Mu’in bi Tashih Hadist ‘Aqd at-Tasbih bil Yamin, hal. 229. Syaikh Bin Baz mengomentari risalah ini dalam muqaddimah risalah tersebut, “Risalah yang bagus dan bermanfaat…Saya sarankan kepada penuntun ilmu tuk membaca risalah ini dan mengambil pelajaran darinya, karna besarnya faidah yang terkandung di dalamnya meskipun ringkas.” ↩︎
  4. Riwayat disini maksudnya adalah pendapat yang dinukil dari Imam Ahmad oleh para murid beliau. Biasanya Imam Ahmad memiliki beberapa pendapat dalam satu masalah hukum. Dalam masalah ini, Imam Ahmad memiliki dua riwayat: yang pertama, boleh dibaca dipisah atau digabung; kedua, digabung tanpa dipisah (Dr. Khalid, at-Tamadzhub, jilid 1, hal. 476; al-Hafizh Ibnu Rajab, Fathul Bari, jilid 7, hal. 414). ↩︎
  5. Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safarini, Abul ‘Aun; Syamsyuddin, al-‘Allamah, al-Fahhamah, al-Musnid, al-Hafizh, dan al-Mutqin. Beliau lahir di pada tahun 1114 H di desa Safarin, salah satu desa didaerah Nablus, Palestina. Beliau telah membaca, menghafal, dan menguasai al-Qur’an sejak kecil. Kemudian beliau melakukan perjalanan ke Damaskus, Suriah untuk menimba ilmu dari para ulama disana, diantarana adalah Syaikh Abdul Qadir at-Taghlibi, Syaikh Abdul Ghani an-Nablusi, dan lainnya. Beliau adalah guru dari Murthada az-Zabidi, penyusun Kitab kamus Arab terbesar Taj al-‘Urus min Jawahir al-Qamus, yang terdiri dari 40 jilid rahimahumallah (Sumber: Muarrikh Ibnu Hamid, as-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, jilid 2, hal. 839-841, Murthada az-Zabidi, Taj al-Urus min Jawahir al-Qamus, jilid 12, hal. 47) ↩︎