Rivalitas Ilmiah Ibnu Hajar al-Asqalani dan Badruddin al-Aini

al-Hafizh al-Iraqi (725-805 H). Guru besar para Ahli Hadist di era itu. Para Huffazh seperti  al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Hafizh Badruddin al-’Aini, al-Hafizh Ibnu Dzahirah, al-Hafizh al-Haitsami (Penulis Majma’ Zawaid), dan masih banyak lagi menimba ilmu hadist kepada beliau rahimahullah.

Ada hal menarik yang terjadi antara dua murid beliau, yaitu al-Hafizh Ibnu Hajar dengan al-Hafizh Badruddin al-’Aini, yang dimana Ibnu Hajar sendiri murid terkemuka dari al-Hafizh al-Iraqi, tetapi al-’Aini dengan semangat belajar dan produktivitas karyanya mampu mencapai tingkatan yang dapat menyaingi Ibnu Hajar.

Selain persaingan dalam keilmuan, dalam hal mazhab pun kerap beberapa kali terjadi diskusi yang pada akhirnya seperti pertarungan antar-mazhab; al-’Aini sendiri seorang Hanafi dan Ibnu Hajar seorang Syafi’i. Puncak dari persaingan ilmiah ini adalah ketika keduanya menyelesaikan kitab syarah Shahih Bukhari berjilid-jilid pada periode waktu yang bersamaan; Ibnu Hajar dengan Fathul Bari bi Syarh Sahih Bukhari, sedangkan al-’Aini menamainya dengan Umdah al-Qari fi Syarh Sahih Bukhari

Dari penamaan karya al-’Aini, seperti ada isyarat memosisikan karyanya di atas pesaingnya Fathul Bari Syarh bi Sahih Bukhari. Umdah al-Qari yang artinya “Sandaran utama bagi pembaca dalam menjelaskan Sahih Bukhari”. Selain itu, dalam Umdah milik al-’Aini, beliau sering mengutip bagian dari Fathul Bari  yang kemudian di beri catatan kritis. Menanggapi hal tersebut Ibnu Hajar menyusun sebuah kitab yang diberi judul ‘Intiqadh al-I’tiradh (Meruntuhkan Kritik) didalamnya memuat semua jawaban atas catatan kritis al-’Aini dalam Umdah-nya. Secara umum kedua kitab tersebut sangatlah berbobot dan memiliki keunggulan masing-masing, Fathul Bari dari sisi hadist, fikih perbandingan, dan lainnya. Sedangkan Umdah memiliki keunggulan dari sisi keindahan satra bahasa, tata letak kitab, dan lainnya.

Walaupun secara popularitas, Fathul Bari jelas melampaui Umdah al-Qari. al-Hafizh as-Sakhawi berkata, “SIngkatnya, syarh al-Badr (Umdah al-Qari) pun termasuk karya tulis yang kaya akan berbagai disiplin ilmu, namun tidak tersebar sebagaimana syarh guruku (Ibnu Hajar), yang banyak diminta oleh raja-raja dari penjuru dunia kepada penguasa Mesir1 , dan diperebutkan oleh para ulama sejak masa Ibnu Hajar masih hidup hingga seterusnya setelah beliau wafat.” Rahimahumallah.

Wallahu Ta’ala a’lam

Sumber Referensi:

  1. Karna Ibnu Hajar merupakan penduduk Mesir, begitupula dengan al-Aini. ↩︎
  1. Karna Ibnu Hajar merupakan penduduk Mesir, begitupula dengan al-Aini. ↩︎