Hukum Menambah Bilangan Zikir dari yang Telah Ditentukan Syariat

Tulisan ini hanya mengulas zikir-zikir yang memiliki ganjaran tertentu apabila dilafalkan sesuai dengan bilangan yang disebutkan dalam hadist. Seperti hadist zikir setelah shalat wajib lima waktu. Rasululloh ﷺ bersabda:

من سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ. وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ. وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ. فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ. وَقَالَ، تَمَامَ الْمِائَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ – غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كانت مثل زبد البحر

HR. Muslim, no. 597 dari sahabat Abu Hurairah. Hadist ini menyebutkan bahwa barang siapa yang setelah shalat kemudian bertasbih, bertahmid, bertakbir tiga puluh tiga kali, kemudian ditutup dengan zikir:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Diucapkan hanya satu kali, maka keutamaannya adalah dosa kecilnya1 akan dihapus, walaupun dosanya sebanyak buih yang ada di lautan2.

Terkait hal ini, apakah menambah bilangan dzikir dari yang sudah ditentukan syariat akan menghilangkan ganjaran tersebut?.

al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

“Sebagian ulama berpendapat bahwa bilangan dzikir yang disebutkan dalam berbagai hadist yang jika dikerjakan memiliki ganjaran tertentu, seperti dzikir setelah salat, atau yang semisalnya. Jika seseorang menambah jumlahnya melebihi bilangan dzikir yang sudah ditentukan, maka ia tidak akan mendapat ganjaran khusus tadi. Ini karena adanya kemungkinan bahwa bilangan-bilangan tersebut memiliki hikmah tertentu yang bisa hilang jika batasannya dilampaui.”

“Guru kami, al-Hafizh Abul Fadhl3 dalam kitabnya Syarh at-Tirmidzi berkomentar, ‘Pendapat tersebut perlu dikaji ulang. Sebab orang tersebut telah memenuhi kadar yang menjadi syarat untuk mendapatkan ganjaran tersebut, sehingga ganjaran itu sudah ia dapatkan. Jika ia menambahnya dengan dzikir yang sejenis, bagaimana mungkin tambahan tersebut justru menghapus pahala yang sudah didapat sebelumnya?‘”

al-Hafizh Ibnu Hajar kemudian berkata:

“Namun keadaannya bisa berbeda tergantung niat:

  • Jika ia berniat ketika sampai pada bilangan yang sudah ditetapkan dalam hadist, dengan niat menjalankan perintah yang ada untuk mendapatkan keutamaan tersebut, lalu setelah itu ia menambah bilangan zikirnya lagi, maka keadaannya adalah sebagaimana yang dikatakan guru kami.
  • Jika ia menambah tanpa niat seperti niat diatas, misalnya keutamaan khususnya sudah ditetapkan dalam hadist pada sepuluh kali bacaan, lalu ia mengubah susunannya menjadi seratus kali bacaan4, maka pendapat dari sebagian ulama yang disebutkan di awal menjadi layak atau valid5.”

Kemudian Ibnu Hajar menukil ucapannya Imam al-Qarafi6 (w. 684 H) dari kitabnya al-Qawaid, ‘Termasuk bid’ah yang dibenci adalah menambah jumlah pada amalan sunnah yang batasannya telah ditentukan syariat. Karna sudah menjadi kebiasaan orang-orang yang memilki otoritas dan pengaruh besar7jika mereka menetapkan suatu batasan, maka batasan itu harus dipatuhi, dan siapa pun yang melampauinya dianggap tidak beradab.’

“Sebagian ulama memberikan perumpamaan seperti obat. Misalnya dalam suatu ramuan obat dibutuhkan satu ons gula; jika ditambah satu ons lagi, kegunaan obat tersebut bisa hilang. Namun jika ia tetap menggunakan satu ons saja di dalam obat, lalu setelah meminumnya beberapa saat kemudian ia mengonsumsi gula sebanyak yang ia mau, maka khasiat obat tersebut tidak akan hilang.” (Sumber: al-Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari bi Syarh Sahih Bukhari, jilid 2, hal. 330).

Wallahu Ta’ala a’lam

  1. Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: (غُفِرَتْ خَطَايَاهُ) “Dosa-dosa nya akan dihapus” Kata ‘Dosa’ yang bentuknya masih umum ini merujuk pada dosa-dosa kecil yang berkaitan dengan hak-hak Allah ta’ala, bukan dosa besar atau dosa-dosa kecil yang berkaitan dengan hak sesama manusia seperti ghibah, dan yang semisalnya (Sumber: al-’Allamah Ibnu ‘Alan, al-Fatuhat ar-Rabbaniyyah ‘Ala Adzkar an-Nawawi, jilid 1, hal. 212). ↩︎
  2. Sabda Nabi: (وَإِنْ كانت مثل زبد البحر) “Dosa-dosa kecilnya akan dihapus, walaupun sebanyak buih dilautan”  Ini merupakan bentuk kinayah (kiasan) untuk menunjukkan dosa yang akan diampuni sangat banyak (Sumber: Imam at-Thaiibi, Syarh al-Misykah, jilid 6, hal. 1820). ↩︎
  3. Yakni al-Hafizh al-‘Iraqi, kunyah beliau Abul Fadhl. ↩︎
  4. Maksudnya ketika syariat telah menetapkan bahwa perolehan pahala khusus tersebut terikat pada batasan sepuluh kali hitungan. Namun orang yang berzikir justru mengubah format tersebut dengan langsung membacanya sebanyak seratus kali secara sekaligus, tanpa adanya niat untuk mendapatkan pahala khusus pada bacaan kesepuluh terlebih dahulu. ↩︎
  5. Imam Lughah al-Jauhari, as-Sahhah Taj al-Lughah wa Sahhah al-‘Arabiyyah, untuk kata “اتجه- يتجه”, jilid 6, hal. 2255 ↩︎
  6. Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Idris as-Sanhaji al-Qarafi al-Maliki, dengan kunyah Abul Abbas. as-Sanhaji merupakan nisbah beliau kepada suku Shanhajah, salah satu suku Berber di Maghrib dan al-Qarafi nisbah pada Qarafah, sebuah wilayah yang dekat dengan makam Imam Syafi’i. Beliau lahir, tumbuh besar, dan wafat di Mesir. Seorang Imam, al-“Allamah, al-Hafizh, al-Bahr (samudra ilmu), orator yang fasih. Beliau banyak mengambil ilmu dari Sulthan Ulama ‘Izuddin bin ‘Abdus Salam rahimahumallah (Sumber: al-Qadhi Ibnu Farhun, ad-Diibaj al-Madzhab fi Ma’rifat A’yan Ulama al-Mazhab, jilid 1, hal. 236). ↩︎
  7. Prof. Bahasa Arab Ahmad Mukhtar Umar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’ashirah, untuk kata “عظيم ج عظماء” jilid 2, hal. 1520. ↩︎

  1. Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: (غُفِرَتْ خَطَايَاهُ) “Dosa-dosa nya akan dihapus” Kata ‘Dosa’ yang bentuknya masih umum ini merujuk pada dosa-dosa kecil yang berkaitan dengan hak-hak Allah ta’ala, bukan dosa besar atau dosa-dosa kecil yang berkaitan dengan hak sesama manusia seperti ghibah, dan yang semisalnya (Sumber: al-’Allamah Ibnu ‘Alan, al-Fatuhat ar-Rabbaniyyah ‘Ala Adzkar an-Nawawi, jilid 1, hal. 212). ↩︎
  2. Sabda Nabi: (وَإِنْ كانت مثل زبد البحر) “Dosa-dosa kecilnya akan dihapus, walaupun sebanyak buih dilautan”  Ini merupakan bentuk kinayah (kiasan) untuk menunjukkan dosa yang akan diampuni sangat banyak (Sumber: Imam at-Thaiibi, Syarh al-Misykah, jilid 6, hal. 1820). ↩︎
  3. Yakni al-Hafizh al-‘Iraqi, kunyah beliau Abul Fadhl. ↩︎
  4. Maksudnya ketika syariat telah menetapkan bahwa perolehan pahala khusus tersebut terikat pada batasan sepuluh kali hitungan. Namun orang yang berzikir justru mengubah format tersebut dengan langsung membacanya sebanyak seratus kali secara sekaligus, tanpa adanya niat untuk mendapatkan pahala khusus pada bacaan kesepuluh terlebih dahulu. ↩︎
  5. Imam Lughah al-Jauhari, as-Sahhah Taj al-Lughah wa Sahhah al-‘Arabiyyah, untuk kata “اتجه- يتجه”, jilid 6, hal. 2255 ↩︎
  6. Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Idris as-Sanhaji al-Qarafi al-Maliki, dengan kunyah Abul Abbas. as-Sanhaji merupakan nisbah beliau kepada suku Shanhajah, salah satu suku Berber di Maghrib dan al-Qarafi nisbah pada Qarafah, sebuah wilayah yang dekat dengan makam Imam Syafi’i. Beliau lahir, tumbuh besar, dan wafat di Mesir. Seorang Imam, al-“Allamah, al-Hafizh, al-Bahr (samudra ilmu), orator yang fasih. Beliau banyak mengambil ilmu dari Sulthan Ulama ‘Izuddin bin ‘Abdus Salam rahimahumallah (Sumber: al-Qadhi Ibnu Farhun, ad-Diibaj al-Madzhab fi Ma’rifat A’yan Ulama al-Mazhab, jilid 1, hal. 236). ↩︎
  7. Prof. Bahasa Arab Ahmad Mukhtar Umar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’ashirah, untuk kata “عظيم ج عظماء” jilid 2, hal. 1520. ↩︎